3 Tanda Anda harus segera berhenti dari pekerjaan sekarang!

Sekali-kali, mari kita berbicara mengenai masa depan…  Orang bijak berkata, “Anda 5 tahun mendatang tetap Anda yang sekarang, yang pasti berbeda adalah 5 orang terdekat Anda serta buku-buku yang Anda baca!”
Berikut ini tulisan dari seorang kawan.. saya ketik ulang agar dapat Anda nikmati dan semoga berguna bagi perkembangan diri Anda serta menjadi berkat bagi keluarga Anda.
= = = = = = = = = = = = = = = = = = =  START…  = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Bulan ini, dua rekan kerja saya resign.  Mereka bukan sekedar konco gawe biasa, tapi juga partner in crime dalam bermain, belajar, ngegosip, ngebully, dan teman tidur yang menyenangkan (kata Umar, kita bisa tahu karakter seseorang setelah bepergian dengannya, berbisnis dengannya, dan tidur di rumahnya).
Dua-dua-nya pindah ke perusahaan start-up.  Kawan pertama pindah ke online travel agent yang katanya berpotensi menjadi the first start-up unicorn di Indonesia (perusahaan dengan valuasi 1 milyar USD).  Kawan ke dua pindah ke perusahaan FMCG dairy products dari Thailand yang produknya akan masuk ke pasar Indonesia.
Tentu saya merasa kehilangan, sambil mengelus perut dan bertanya, “situ kapan bro?”  Bagi generasi Milenials seperti kami, berganti pekerjaan bukanlah sesuatu yang tabu.  Menurut statistik, 80% beranggapan bahwa waktu ideal bekerja di satu perusahaan adalah maksimal 3 tahun.  Dan itu berarti kami bisa berganti pekerjaan hingga 15-17 kali dengan 5 bidang karir yang berbeda.  Bahkan 55% generasi ini ingin membuka perusahaannya sendiri.
Sejak lulus kuliah dan mencoba belajar di dunia korporasi pada tahun 2012, saya sudah pindah 4 perusahaan.  Mengajukan surat pengunduran diri bukanlah sesuatu yang asing, tapi berdasarkan pengalaman pribadi, ada tiga syarat dimana kita wajib mengajukan surat cinta ini:
  1. Mengalami Stagnasi

Masih melakukan pekerjaan yang persis sama seperti 2 tahun lalu?  Maka ada dua kemungkinan.

    Pertama, anda semakin ahli (specialist expert), atau kemungkinan kedua: anda ngak kemana-mana lagi (stagnan).  Bagaimana membedakannya?  Sederhana…
    Cukup ajukan pertanyaan kepada diri sendiri: “Apakah saya belajar hal baru?  Apakah saya bertemu orang baru?  Apakah saya memberikan kontribusi baru?”
    Jika jawabannya tidak, maka selamat bertemu dengan makhluk setengah dementor bernama Stagnansi.  Ia akan menyeret korbannya ke zona nyaman dan perlahan-lahan menyedot perkembangan hidup si korban.
  1. Tidak ada inspirasi
    Ketika Anda bangun pagi dan berdoa ada badai salju agar tidak perlu ke kantor hari ini, maka itu adalah tanda tiadanya inspirasi.  Saat Anda merasa bosan dan berharap segera pulang, maka itu adalah pertanda gairah yang hilang.  Saat pekerjaan menjadi tuntutan kewajiban, maka setiap tanggung-jawab terasa seperti beban.
    Pekerjaan yang baik harus membuat anda bersemangat bangun pagi, tertawa saat sibuk di siang hari, dan tersenyum ketika pulang di malam hari.  JikaAnda tidak bahagia, berarti ada yang saah dengan pekerjaan Anda, atau cara Anda memaknai pekerjaan itu.
  1. Mengejar mimpi
    Mark Zuckerberg mengembangkan Facebook saat belum genap berusia 20 tahun, Henry Ford memulai Ford Motor di usia 39, Colonel Sanders membuka gerai KFC pertama di umur 65.  Intinya: orang akan mengingat karya Anda, bukan usia Anda.  Tidak ada kata terlambat untuk melakukan perubahan yang membawa kebaikan.
    Ketika Anda sadar jika Tuhan menciptakan Anda bukan untuk melakukan pekerjaan ini dan memiliki “panggilan” untuk melakukan sesuatu yang lain, maka waktunya mengikuti panggilan itu.  Jangan membunuh suara hati kecil Anda.
POSISI versus KONTRIBUSI
    Bagaimana jika tujuan pindah kerja untuk mencari penghidupan (gaji) yang lebih baik?  Tentu itu wajar dan manusiawi.  Tapi anehnya, hampir semua orang hebat (entrepreneur, direktur, pejabat public) yang saya temui dan baca biografinya tidak meletakkan bayaran sebagai motivasi utama.  Mengutip Robert T. Kiyosaki:
    “Hanya kelas menengah yang bekerja demi gaji”.
    Oleh karena itulah, juga demi menghindari pajak, CEO perusahaan besar seperti Steve Jobs (Apple), Sergery Brin (Google), atau Lee Lacocca (Chrysler) hanya “digaji” 1 dolar USD.  (Tentu mereka mendapatkan paket benefit lain senilai jutaan dolar yang dikenai pajak lebih kecil).
    Bagi orang-orang keren ini, bayaran tak perlu dipikirkan.  Hal itu pasti naik mengikuti pertumbuhan kualitas diri. Mereka tidak berkata: “Apa yang saya dapatkan?”, tapi justru malah bertanya: “Apa yang bisa saya berikan?
    Mereka tahu perbedaan antara posisi dan kontribusi.  Posisi itu alat, kontribusi itu nilai.  Orang kebanyakan lebih mementingkan posisi daripada kontribusi, sedangkan mereka tahu jika kontribusi lebih penting daripada posisi.  Kontribusi memberikan Anda posisi.  Posisi mewajibkan Anda untuk berkontribusi.  Kita tak perlu menunggu memiliki posisi, untuk menyumbangkan kontribusi.
    Direktur itu posisi, mengusulkan solusi itu kontribusi.
    Pejabat itu posisi, melayani orang lain itu kontribusi.
    Guru itu posisi, membagi ilmu itu kontribusi.
    Dokter itu posisi, membantu sesama itu kontribusi.
    Polisi itu posisi, melindungi yang lebih lemah itu kontribusi.
    Menjadi manusia itu posisi, menjadi makhluk ciptaan Tuhan dan berbuat kebaikan, itu kewajiban.
Jadi dimana posisi Anda saat ini?
Dan apa kontribusi yang dapat Anda berikan ke sesama?
strong-people

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: