Mungil-mungil cabe rawit… Xiaomi Yi Cam 4K (2016) edition.

Hi B2B-ers,

Apa kabar kalian liburan kemarin?

Karena pergi berwisata ke Umbul Punggok, Klaten – Jawa Tengah, akhirnya jadi kepincut mencari action cam ekonomis.

Setelah browsing sana sini, tanya-tanya kawan serta browsing Internet, akhirnya memutuskan meminang Xiaomi Yi Cam 4K (2016) karena beberapa pertimbangan berikut ini:

1. Kapasitas battery 1400mAh
Sekali charge bisa tahan 2 jam dalam merekam video non-stop.

2. Chipset yang digunakan Yi Cam 4K – 2016 (Ambarella A9SE75) sama (bahkan lebih baru) dengan yang digunakan GoPro HERO4 (Ambarella A9)

3. Image sensor ditenagai oleh IMX377 1/2.3″ sensor gambar yang dapat mengambil video beresolusi 4K sebanyak 30 frames-per-detik, serta mengambil gambar diam dengan sensor 12MP. Pada bagian depannya adalah lensa cepat f/2.8 7-lapisan lensa kaca yang menawarkan pandangan selebar 155.

4. Optical Image Stabilizer yang sangat baik untuk pengambilan gambar/video (GoPro tidak memiliki fungsi OIS)

5. Memiliki 2.19″ layar sentuh untuk mengakses menu serta pengaturan lainnya (640×360 pixels – 330ppi)

6. Mendukung koneksi WiFi (2.4GHz & 5GHz), serta Bluetooth v4.1. Sayangnya koneksi WiFi yang berguna untuk terkoneksi ke smartphone (iOS / Android melalui aplikasi Yi Cam), sedangkan koneksi Bluetooth hanya dapat terkoneksi ke remote Xiaomi Yi Cam.

Perburuan dimulai, kebetulan keluarga mengijinkan sebagai kado istimewa ultah.. Akhirnya diputuskan untuk memesan secara online, dan sayangnya pengiriman menjadi terlambat dari jadwal semula (hal baru?) Belum lagi, sempat toko sebelah menawarkan barang yang sama dengan harga yang jauh lebih ekonomis… ya sudah kepalang basah, (tutup mata saja deh). 😀

Akhirnya sebelum pesanan datang, kami memesan 3 buah battery cadangan, 1 buah remote bluetooth Xiaomi Yi (untuk menemani tongsis), serta docking charger battery, sayangnya, ketentuan pengiriman saat ini, tidak bisa mengirimkan battery.. jadi akhirnya hanya dikirimkan remote Xiaomi Yi serta docking battery. Jadi yang masih pending saat ini, adalah casing waterproof biar bisa foto dalam air, berikut battery cadangan, agar lebih nyaman dibawa keliling 😀

Alkisah, pesanan datang, dengan H2C (harap-harap cemas), segera membuka kemasan pesanan, ternyata kotak action camera itu sangat-sangat mungil… Hampir tidak percaya, belum lagi dibagian luarnya gambarnya berwarna putih, padahal kami memesan warna hitam. Pikirnya ya sudahlah, yang penting barang sudah diterima.

Begitu melihat karema pertama kali, terus terang cukup terkejut … karena ukurannya yang sangat mini. 🙂 Bagi yang belum bisa membayangkan seberapa mini-nya, ini kami letakkan kamera dimaksud pada keyboard laptop. Panjangnya hanya kurang lebih 4 tuts keyboard (Fn, Control, Option, Command) LOH!

Tidak terlihat sesuatu yang istimewa pada perangkat ini, build quality lumayan, tidak terlihat murahan..
Memasukan serta mengeluarkan battery untuk pertama kali sangat menjadi PR, karena lumayan seret.. 🙂
Layar yang ada adalah touchscreen, artinya dapat disentuh-sentuh untuk merubah pengaturan.. contohnya:
1. Usap dari sisi paling atas layar ke bawah, akan membuka akses koneksi, baik itu WiFi, Bluetooth, settings, dan sebagainya.
2. Usap dari sisi paling bawah layar ke arah atas, akan memunculkan pilihan photo, timer, video, video timelapse, dan sebagainya.

Kualitas layar cukup baik, mudah terlihat jelas dibawah sinar matahari, pada bagian kanan atas terdapat icon WiFi serta status battery, sedangkan di sisi kiri menyajikan informasi berapa banyak photo / menit video yang masih dapat disimpan ke dalam kartu memory (MicroSD card).

Oh ya, untuk perekaman video 4k, kami sarankan menggunakan memory card minimal Class 10 UHS-I, sebaiknya yang memiliki speed read/write diatas 80MB/s. Saran kami, carilah merek-merek seperti Sandisk, Samsung, yang karuan, jangan yang abal-abal.

Yang tak kalah mengejutkannya, yaitu remote Xiaomi Yi Cam. Ternyata fisiknya sangat-sangat mungil ya… sampai-sampai khawatir menghilangkannya, kelupaan dan tercecer dimana.

Berikut ini photo Xiaomi Yi Cam remote dibandingkan dengan sebuah USB Flashdisk. Sudah kebayang berapa besarnya? 🙂

Kejutan belum berakhir, ternyata si remote tersebut dimasukan ke dalam sarung, dan apabila dikeluarkan maka bentuk fisiknya akan makin kecil lagi. 😀

Sementara ini, karena belum mendapatkan battery cadangan, docking masih nganggur. *he he he he* Kalau ada yang punya, silahkan tinggalkan pesan ya.. 🙂

Oh ya, karena iseng ada gorillapod nganggur, jadinya coba dipasangkan di dalam mobil, dan hasilnya luar biasa, bisa menjadi dash cam dengan sudut lebar (wide). 🙂

Pengalaman penggunaan sampai hari ini:

1. Update firmware agak menghawatirkan, karena saat terhubung ke smartphone, otomatis mengunduh firmware terbaru, dan apabila koneksi internet kita tidak stabil, firmware yang diunduh tidak sempurna dapat menyebabkan action camera rusak. Ada beberapa rekan yang mengalami WiFi bermasalah setelah auto upgrade.

2. Optical Image Stabilisation-nya sangat terasa, karena hasil video menjadi tidak terguncang-guncang…

3. Dicoba menangkap gambar video timelapse saat malam hari, gambar tetap terlihat jelas tanpa noise yang berarti. Urusan video, nanti hasilnya coba diupload ke youtube deh ya…

A. Sementara nikmati dulu persembahan pujian dari pak George di youtube berikut ini (direkam dalam ruangan – indoor).

B. Rekaman di dalam mobil berjalan, sebagai dash-camera, dapat dilihat pada link berikut ini.  Lihat bagaimana EIS bekerja dan bagaimana hasilnya pada video time-lapse yang direkam.

Selanjutnya apabila ada yang ingin tahu akan diinformasikan disini setelah video lainnya selesai diupload. 😀 Come back for more info, begitu ceritanya. 🙂

Apalagi ya? Sementara itu saja dulu ya…

Sampai ketemu lagi…

 

Salam,

– B2B –

Apakah mungkin membuat video seperti seorang PRO?

Pertanyaan diatas sangat-sangat sulit, dan sering kali menjadi perdebatan antara bisa atau tidak, lebih banyak akan berpendapat, ya mungkin saja kalau dia (orang itu) sedang beruntung (lucky shoot), atau pendapat lainnya, mungkin saja asalkan ….. menggunakan / didukung peralatan yang memadai, yang lain akan berpendapat, paling penting man behind the gun (orang yang memegang alat yang menentukan apakah hasil-nya bagus/tidak).

Apa-pun pendapat yang muncul, kebetulan kali ini kami mendapatkan pinjaman sebuah tongkat video, yang lebih dikenal sebagai DJI OSMO.

Mungkin banyak yang bingung, DJI OSMO itu barang apa ya? Merek DJI biasanya terkenal untuk sebagai pembuat drone yang bagus (tapi mahal banget!). *he he he he* 😀

Ya, anda benar, DJI membawa teknologi drone yang telah dimodifikasi agar dapat dipegang oleh tangan. Kelebihan-nya adalah: Karena memiliki 3 ways sensors (lebih dikenal sebagai GIMBAL), maka video/gambar yang dihasilkan bebas dari getaran. Foto alat DJI OSMO dapat dilihat dibawah ini.

Loh, ternyata DJI OSMO itu tidak memiliki layar sendiri ya? Benar, walaupun tanpa “layar”, perekaman tetap dapat dilakukan, hanya saja kita tidak mengetahui apa yang sedang direkam bukan? Untuk itu diperlukan alat bantu berupa ponsel pintar. DJI OSMO mendukung baik ponsel yang berbasis iOS (iPhone) maupun berbasis Android. Jadi apa-pun ponsel yang anda gunakan, seharusnya telah mendukung konektifitas ke DJI OSMO.

Cara menghubungkan DJI OSMO ke ponsel-pun terbilang unik. Pertama anda perlu mendownload aplikasi DJI GO di AppStore sesuai sistim operasi ponsel anda. Kemudian hidupkan DJI OSMO dan cari WiFi-ID OSMO_xxxxxx; koneksikan ponsel ada ke WiFi-ID OSMO_xxxxxx tadi dengan password standar 12341234.

Setelahnya baru anda buka aplikasi DJI GO yang sebelumnya telah anda download. Nah, pengaturan lebih lanjut dari DJI OSMO dapat anda lakukan via aplikasi DJI GO ini. Mau shooting manual (pilih ISO dan Shutter Speed sendiri), menggerakan/mengontrol pergerakan camera, atau apa-pun itu.

Untuk contoh shoot menggunakan DJI OSMO akan di share dalam bentuk link youtube di update berikutnya… So stay tune ya…

Kesimpulan mengenai perangkat DJI OSMO:

KELEBIHAN:
+. Hasil video kualitas cinematic dan sangat stabil (tidak goyang-goyang)
+. Mendukung resolusi sampai 4K 30frames (paling kecil HD 1280x720p 24frames)
+. Battery tahan +/- 45-60menit
+. Lensa standard Zenmuse X3 viewing angle-nya cukup lebar
+. Build-in WiFi (2.4GHz/5GHz), bisa langsung diintip hasilnya menggunakan mobile devices (iOS/Android)
+. Perlu sedikit latihan agar dapat menghasilkan efek-efek yang diinginkan (misal seolah-olah gambar diambil dari Jimmy Jeep)
+. Kapasitas penyimpanan menggunakan MicroSD card UHS-1 atau Class10 (ilustrasi penyimpanan video 4K di 16GB up-to 36 menit dan up-to 145menit menggunakan 64GB MicroSD Card)

KEKURANGAN:
-. Suara kipas pendingin akan terekam masuk (harus dihilangkan saat post-pro)
-. Tidak bisa merekam langsung ke Device yang saat itu terhubung
-. Suara yang terekam cukup sayup-sayup, perlu di normalisasi pada tahap post-pro
-. Perpindahan dari mode record biasa ke slow-motion harus menghentikan proses rekaman kemudian mulai kembali
-. Tidak bisa sambil mengambil video kemudian melakukan photo

3 hari pertempuran Samsung Gear S2 vs Pebble Time.

Selamat tahun baru 2016,

Memenuhi janji kami di BBM, silahkan disimak pertempuran akbar antara wearable device terbaru dari Samsung (Gear S2) vs Pebble Time.

Tanggal 23 Desember 2015, akhirnya kiriman sebuah Samsung Gear S2 berwarna hitam datang. Akan tetapi dikarenakan kesibukan akhir tahun, baru tanggal 3 Januari 2016 uji coba mulai dapat kami lakukan.


Pict #1: Bukti masih segel sampai 3 Januari 2016. 🙂

Tentunya pada penasaran isi dalaman kotak Samsung Gear S2 ada apa saja ya?


Pict #2: begitu dibuka langsung terlihat unit Samsung Gear S2.


Pict #3: disebelah bawah ada cradle wireless charger, adaptor MicroUSB 700mAh, buku panduan serta sebuah extra strap berwarna abu-abu.


Pict #4: paket isi Gear S2 yang kami terima.
(Catatan: entah apakah semua Gear S2 dari SEIN memang mendapatkan strap extra atau tidak).


Pict #5: Gear S2 di charge terlebih dahulu sebelum di utak-atik.

Mengikuti petunjuk di buku manual, kami melakukan charging hingga penuh. Menggunakan adaptor pihak ketiga, charging dari 70% menuju 100% membutuhkan waktu +/- 20menit.  Berdasarkan alat pengukuran arus, saat battery sisa 17%, arus yang mengalir dari catu daya ke wireless charging pad Gear S2 adalah sebesar 200mAh saja.


Pict #6: saat 100% lampu indikator di docking berubah menjadi hijau.

O ya, bentuk dockingnya agak unik, karena pada saat didekatkan ke charging pad, unit Gear S2 seperti menempel dengan magnet ke docking station-nya.

Ritual menghubungkan Gear S2 ke handphone, tidak cukup hanya mengandalkan aplikasi Samsung Gear yang terinstall di handphone, ada tambahan langkah penting (yang tidak terdokumentasikan), yaitu pertama-tama anda harus melakukan pairing Bluetooth secara manual antara Gear S2 dengan handphone.  Setelah melakukan hal tersebut, baru aplikasi Samsung Gear dapat terhubung ke Samsung Gear S2.


Pict #7: setelah terhubung otomatis mengunduh update untuk Gear S2.


Pict #8: masih harus menyetujui beberapa hal


Pict #9: akhirnya, dimulai dengan memilih aplikasi mana saja yang notifnya muncul di Samsung Gear S2.


Pict #10: menu utama aplikasi Samsung Gear setelah terhubung

Pict #11: Samsung Gear S2 sedang menyelesaikan update software / Sisa storage di Samsung Gear S2 (4GB – 1.87GB).

Tentunya pada bingung, Storage (penyimpanan), di jam tangan?  Apa tidak salah tulis?  Tentu saja tidak salah tulis,  ruang penyimpanan itu dapat diisi baik dengan berkas musik (lagu), maupun berkas foto.  Sayangnya, foto yang disimpan pada Gear S2 tidak dapat dijadikan background untuk watch-face, kecuali menggunakan aplikasi pihak ketiga (seperti MrTimeMaker.com)

Gear S2 memiliki 512MB RAM dan 4GB ruang penyimpanan.  Pada saat awal, ruang penyimpanan yang telah digunakan sebesar 1.87GB, sisanya dapat diisi sesuka hati, mau foto selfie terbaru ataupun berkas lagu semua boleh.  Dapat kita definisikan agar ada folder tertentu di HP yang secara otomatis sync ke Gear S2, setiap kali kedua alat terkoneksi.

Lalu apa gunanya menyimpan berkas lagu di jam tangan?  Dugaan anda benar, seandainya anda penggemar olah-raga lari, anda dapat memutar lagu langsung dari Gear S2 dan didengarkan lewat bluetooth headphone.  Dengan dukungan waterproofing IP68 pada Gear S2, tentunya anda tidak perlu takut berolah-raga lari dan tiba-tiba turun hujan. 🙂  Simpan ponsel mahal (tapi tidak anti air) kita di tempat yang aman. 😀

image31

Pict #12: Target olah-raga dengan pengukuran detak jantung sepanjang waktu

Detak jantung kita diukur bukan hanya pada saat melakukan olah-raga,  salah satu keunggulan Gear S2, setiap jam secara otomatis detak jantung kita dipantau dan di sync ke S-Health.  Pada akhirnya kita akan memiliki data detak jantung sewaktu-waktu. 🙂

Kesan awal yang di dapatkan saat memegang Gear S2 vs Pebble.

Gear S2:
1. Secara material lebih tebal dan berat
2. Material strap (tali) dari bahan PVC kaki sama seperti keluarga Gear lainnya (biasanya suka pecah – pecah setelah beberapa waktu).

Pebble:
1. Secara keseluruhan lebih terasa ringan
2. Material strap (tali) dari bahan mirip karet lunak.

Software penghitung langkah kaki di Gear S2 lebih “pelit” dibandingkan Pebble “health” maupun “Misfit”.

Waktu pertama kali digunakan (charging ke 1), Gear S2 hanya bertahan sekitar 19jam (dari 100% -> 17%). Pada cycle ke-dua, setelah 25jam masih tersisa 35%. Pada cycle ke-tiga, dari jam 06AM sampai jam 16 sore masih tersisa 80%.

Perpaduan layar SAMOLED, rotating bezel & layar sentuh, membantu kita membaca pesan secara lengkap di Gear S2 serta memudahkan kita dalam membalas pesan.

Contoh mereply pesan BBM di Gear S2 vs Pebble. Di Gear S2 cukup menyentuh tombol reply (balas) kemudian memilih pesan yang diinginkan (2 langkah), sedangkan di Pebble harus menekan-nekan tombol fisik lebih dari 5 langkah untuk mendapatkan hasil yang sama.

image41

Pict #13: pesan BBM @ Gear S2

image51

Pict #14: scroll ke akhir pesan BBM dan langsung tap pada tombol Reply

image61

Pict #15: Pesan BBM di Pebble Time

image71

Pict #16: harus menekan beberapa tombol terlebih dahulu baru bisa sampai ke menu “Reply   >>

image81

Pict #17: Kembali menekan beberapa tombol baru bisa masuk ke menu “Template    >>

image91

Pict #18: (lagi) menekan beberapa tombol lagi baru mengirimkan balasan jawaban yang diinginkan.

Catatan:
Bagi anda yang menggunakan Samsung Gear S2 (baik tipe sport maupun classic), apabila anda tidak mendapatkan opsi yang sama persis dengan uraian kami diatas, coba install aplikasi Android Wear dari Google Playstore.  Aplikasi tersebut asli dari google, untuk memperluas fungsi smartwatch/wearable yang kita miliki.

Setelah menggunakan kedua-nya selama 3 hari sebagai perbandingan.  Kesimpulan yang kami dapatkan adalah:

Samsung Gear S2:

  1. Berguna dalam mengumpulkan data detak jantung sewaktu-waktu kita (selama 24 jam, bahkan saat kita tidur).
  2. Material strap perlu dicarikan alternatif, agar tidak mudah rusak
  3. Watchface dapat diganti langsung dari Gear S2 tanpa harus terhubung ke aplikasi Samsung Gear di handphone
  4. Ada ditemukan beberapa ketidaksesuaian UI, dimana seharusnya bisa melakukan pilihan dengan cara mengeser layar ke arah atas-bawah atau kiri-kanan, contoh: pada saat ingin setting watchface, ternyata fungsi geser layar ke arah atas-bawah harus menggunakan rotating bezel.
  5. Battery hanya tahan sekitar 1-2 harian (sebaiknya di charge setiap hari)
  6. Dapat digunakan sebagai standalone device untuk menelusuri RSS berita seperti Flipboard, dan ada watchface yang terhubung langsung ke CNN ataupun Bloomberg (bisa memasang stock watcher).
  7. Pada saat tidak terhubung ke handphone (melalui bluetooth), dapat terhubung langsung ke Internet via WiFi
  8. Layar SAMOLED lebih nyaman untuk dibaca, berwarna serta dapat menampilkan pesan panjang secara utuh
  9. Watch-face tidak selalu menyala seperti Pebble dengan e-Ink
  10. Dapat merekam voice memo dan hasilnya nanti ditransfer secara otomatis ke handphone menggunakan koneksi WiFi.
  11. Bobot jam secara keseluruhan lebih berat dibandingkan Pebble
  12. Tidak dapat melakukan tracking waktu tidur seperti GearFit
  13. Dapat membantu kita untuk lebih aktif, karena dapat diset untuk mengingatkan kita saat tidak beraktifitas selang beberapa waktu (misal setiap 1 jam sekali)
  14. Tersedia banyak watch-face, dan dapat juga menggunakan watch-face pihak ketiga (contoh: MrTimeMaker.com)
  15. Software penghitung langkah lebih akurat dibandingkan Pebble Health atau Misfit
  16. Bentuk-nya seperti jam biasa pada umum-nya (bulat) membuat kita lebih percaya diri (seperti menggunakan jam biasa)
  17. Getaran-nya (vibration) sangat halus, walaupun sudah di set ke yang paling keras, tetap lembut, sehingga kadang tidak terasa

 

Pebble Time:

  1. Dapat dihubungkan ke 2 perangkat (iOS & Android) secara bersamaan.  Fungsi Pebble di iOS hanya untuk menerima notifikasi, kontrol & kustomisasi Pebble dilakukan semua dari Android.
  2. Battery lebih tahan lama, dalam 1x charge cycle bisa tahan sekitar 3 harian baru minta di re-charge.
  3. Untuk membalas pesan, perlu effort yang lebih, karena harus menekan beberapa tombol fisik berulang kali.
  4. Secara umum bobot jam lebih ringan, tidak berasa menggunakan jam tangan
  5. Softwate Pebble Health / Misfit kurang akurat dalam menghitung langkah kaki
  6. Watch-Face selalu dalam kondisi hidup, terbaca baik di bawah matahari maupun tempat gelap (ada backlight)
  7. Tombol-tombol fisik agak keras
  8. Hanya dapat terhubung ke handphone lewat Bluetooth

Jadi kesimpulannya beli yang mana?

Bagi yang ingin memiliki smart-watch yang sekaligus bisa digunakan menyimpan berkas lagu yang bisa didengarkan lewat bluetooth headset, silahkan melirik Samsung Gear S2.

Sedangkan bagi yang memiliki lebih dari 1 perangkat, terlebih lagi apabila iOS & Android), dan ingin mendapatkan notifikasi dari kedua perangkat tersebut dalam 1 alat, silahkan melirik Pebble family.

Dan bagi yang tidak tahu menginginkan yang mana, sebaiknya membeli kedua-nya agar dapat digunakan secara bergantian maupun digunakan secara bersamaan seperti kami, masing-masing tangan 1 buah. :p

Bagi yang memiliki pendapat lainnya, silahkan dituliskan pada bagian komen dibawah ini 🙂

2016

Samsung Gear S2, beli Classic or Sporty?

Hi,

Setelah sekian lama, akhirnya ketemu lagi acara menarik terbaru… ya, apalagi kalau bukan wearable terbaru dari Samsung, Gear S2!

Acaranya dilaksanakan kemarin, 02 Desember 2015, di EMPIRICA Bar & Lounge, SCBD Sudirman, Jakarta.

Yuk, mari kita intip, apa canggihnya Samsung Gear S2 terbaru sih….

Acara dimulai dengan presentasi dari pak Rompies

Kali ini, smartwatch alias jam pintar Samsung memiliki bentuk bulat, seperti jam pada umumnya. Kenapa bulat? Bulat melambangkan utuh (tidak terputus), serta melambangkan fokus pada tujuan. Selain itu bezel yang bisa diputar (baik ke kiri atau ke kanan), memudahkan pengguna untuk berpindah dari pilihan 1 ke pilihan lainnya secara lebih presisi. Jam pintar ini dilengkapi dengan RAM 512MB serta storage 4GB, mendukung emoji serta memiliki Mic, dapat terhubung ke perangkat lain melalui WiFi / Bluetooth 4.1 serta NFC.

Setelah acara seremonial singkat, peserta secara berkelompok (2-2) diberikan kesempatan menjajal langsung ketangguhkan Samsung Gear S2, tentunya ditemani oleh handphone Samsung juga ya. 😀

Booth experience (meja registrasi untuk mengambil perangkat Samsung Gear S2):

Acaranya cukup seru, membuat jantungan… Jadi pertama-tama setelah menggunakannya, kita coba ukur detak jantung… wow 108bpm! Sedang bersemangat nih. 🙂

Selain mengukur detak jantung, Samsung Gear S2 juga dilengkapi dengan 24/7 activity tracker. Jadi apabila kita terlalu lama duduk (tidak beraktifitas fisik), maka kita akan diingatkan untuk bergerak sebentar. Watch face juga di design D.I.Y watch face (do it yourself), dapat anda kustomisasi sesuka hati. Sssttt, kabarnya nanti juga akan mendukung iOS loh. Kita nantikan saja saat hal itu terlaksana. 😀

Kembali ke acara, ada booth khusus untuk celup-celup tangan #eh, Samsung Gear S2 ke dalam Aquarium. Rusak ngak ya?

Setelah dikeluarkan ternyata masih berfungsi dengan baik, maklum Samsung Gear S2 mendapatkan rating IP68 (tahan debu & air). Hanya tidak ada jaminan untuk air garam (alias air laut loh ya)

Juga ada sudut, dimana di set seperti area kerja kantor, dengan berbagai perlengkapan kerjanya (perlengkapannya hanya SAMSUNG; well, what do you expect?) 😀

Sepertinya seketarisnya, eh, SPG-nya bukan SAMSUNG sih… 😀

Di bagian ini, kita belajar menggunakan Samsung Gear S2 sebagai alat mendukung produktifitas… jadi bisa menjawab pesan SMS langsung dari jam pintar, tanpa harus menyentuh handphone.

Menocba mengetik di Tab S dengan dukungan keyboard bluetooth.

Samsung Gear S2: kiri tipe Classic (warna hitam dengan rantai kulit asli), kanan Sporty (warna silver dengan rantai silicon putih).

Oh ya, Samsung Gear S2 menggunakan teknologi isi ulang wireless charging, jadi mudah-mudahan tidak terulang lagi cerita sedih PIN charging karatan / patah. (crossed fingers)

Disediakan juga sudut bagi penyuka olah raga lari….

Sepintar jadi seperti bermain game temple run, tapi ini harus menginjak pinjakan yang disediakan untuk mengontrol karakternya, lari lurus, berpindah ke kiri maupun kanan.

Kredit photo ke om AT (yes, you know who you are….) :p  Gear S2 cocok juga untuk para wanita cantik loh.. 🙂

Bagi beberapa orang yang sudah sempat mencari informasi di google, dan belum memutuskan apakah Samsung Gear S2 pantas untuk di pinang, kemungkinan besar disebabkan oleh dimensi ukuran jam. Ada sebagian yang merasa terlalu kecil, ada juga yang merasa terlalu besar…

Oleh karena itu, terlampir foto beberapa rekan yang membandingkan jam tangan-nya dengan Samsung Gear S2. (Click gambar untuk memperbesar).

Tipe klasik sepertinya menyampaikan pesan layar yang lebih “kecil” dibandingkan sporty. Sedikit saran, apabila anda menyukai layar besar, kemungkinan tipe Sporty adalah yang anda cari (lebih ekonomis juga). *he he he he*

Akhir kata, ini foto iklan petinggi SEIN dan endorser gear S2, miss Tara Basro.

Bagi yang belum yakin, silahkan menikmati racun-nya, mumpung discount lumayan (cash back serta gratis cicilan kartu kredit), plus… dapat extra strap (@ 650rb) untuk barang Pre-Order yang ambil di S.E.S. terdekat.

 

Sampai jumpa lagi pada kesempatan luar biasa lainnya….

 

Salam SUKSES LUAR BIASA,

– BanyakGaul –

Mau melakukan presentasi secara WOW menggunakan Blackberry Handset (Blackberry OS 10)?

Selamat siang B2B-ers,

Apa kabar anda hari ini? Setelah libur Lebaran usai, sekarang saatnya mencari sesuap nasi kembali untuk Lebaran Haji yang akan tiba sebentar lagi. 😀

Oh ya, siapa diantara kita yang sering harus melakukan presentasi depan umum? Pastinya kebayang ribetnya, musti bawa laptop, LCD Projector, belum segambreng perlengkapannya (kabel), duh… ada cara lebih mudah dalam melakukan presentasi? Jawabannya ADA tuh… kebetulan baru kelinci percobaan berupa satu buah AllShare Cast dongle milik Samsung.

Pict #1: Isi paket AllShare Cast dongle Samsung.

Berhubung baru pertama kali cobain alat tersebut, keinginan pertamanya banyak banget… dari ingin melakukan presentasi secara wireless baik dari device Samsung maupun device lain yang mendukung Miracast. Sudah pada penasaran? Mau tahu, tahu banget atau cuma mau tahu? *ha ha ha ha* 😀

Merujuk kepada judul tulisan ini, presentasi yang WOW itu menurut kami bisa dikategorikan dalam beberapa hal, yakni:
1. Materi presentasinya luar biasa
2. Cara membawakan presentasinya (presenternya) keren
3. Alat – alat pendukung presentasinya membuat berdecak kagum.

Ok, berdasarkan expektasi yang disampaikan diatas, tidak sabar rasanya untuk segera mencoba performance AllShare Cast dongle. Asumsikan saja, materi presentasi & presenternya sudah luar biasa.. mari kita lengkapi faktor WOW-nya dengan melakukan presentasi secara nirkabel. 🙂

Begitu kami ada waktu luang, segera dihubungkan 1 buah dongle ke travel adaptor (micro USB), kemudian kabel HDMI v1.3 ke TV/LCD Projector yang memiliki port HDMI, serta tidak lupa untuk membaca buku petunjuknya (berupa booklet kecil, beberapa halaman saja).

Mengikuti buku petunjuk tersebut, ternyata tidak bisa terhubung, jangan bilang device lain, bahkan device Samsung pun tidak bisa terhubung. Muncul error message seperti berikut;

Pict #2: Gagal koneksi dari GNote 8 ke AllShare Cast dongle error message.

Saran kami? Buang saja buku petunjuk penggunaan AllShare Cast dongle yang tidak berguna itu. :p

Harap maklum, karena baru pertama kali mencoba mainan ini, jadinya sempat kebingungan cukup lama juga. Mencari informasi di Internet bahkan di forum-forum seperti xda-developer juga tidak membantu. Berhubung alat saya juga pinjaman dari seorang kawan baik, yang kebetulan hanya berisi dongle tanpa aksesorisnya, sempat kebingungan, apakah si dongle rusak? atau ada kendala di Software, dan lain-lain.

Lewat tulisan ini, kami ingin membagikan 2 hal, yaitu:
1. cara mengkoneksikan perangkat baru ke AllShare Cast secara baik dan benar
2. cara melakukan mirroring tampilan dari perangkat BB10 ke AllShare Cast.

Mari kita bahas yang pertama, cara melakukan koneksi (pairing) dengan perangkat baru untuk pertama kalinya. Oh ya, AllShare Cast dongle ini hanya dapat terkoneksi (paired) ke 1 perangkat saja ya.

Langkah-langkah yang diperlukan:
A. Koneksikan kabel adaptor ke dongle (jangan di power ON terlebih dahulu)

B. Koneksikan kabel HDMI ke TV/LCD Projector (untuk kabel HDMI v1.3 ke atas, suara juga akan keluar di TV/LCD Projector; dengan beberapa pengecualian).

C.Sekarang di power on dongle-nya tunggu sampai di TV/LCD Projector muncul gambar berikut ini:

Pict #3: Tampilan petunjuk penggunaan di layar TV/LCD Projector saat idle (sebelum dongle terhubung ke handset)

D. Siapkan perangkat yang akan dihubungkan, kemudian tekan tombol reset selamat 1 (satu) detik saja. Apabila anda melakukannya dengan benar, maka lampu indikator di dongle akan berubah menjadi warna BIRU stabil (tidak berkedip-kedip).

Pict #4: AllShare Cast dongle siap menerima koneksi (Image Source: Engadget)

E. Dongle siap untuk menerima koneksi dari perangkat mobile.

Baik, sekarang saatnya kita bahas cara menghubungkan perangkat Blackberry (BB10) dengan AllShare Cast dongle tersebut. Handset BB yang akan digunakan adalah Blackberry Z3 (tentunya anda bebas menggunakan Handset BB10 / android lainnya).

1. Pada handset blackberry (BB10) yang ingin digunakan, pastikan OS yang terinstall sudah minimal versi 10.2.x.x ke atas (yang sudah bisa menginstall aplikasi Android secara native).

2. Masuk ke Settings -> pastikan WiFi dalam keadaan OFF. Apabila belum OFF, silahkan matikan koneksi WiFi.

3. Kemudian buka menu (Settings ->) Display (set wallpaper, font sizes and brightness)- kemudian scroll kebawah seperti gambar berikut ini:

Pict #5: tampilan menu Settings – Display

4. tekan pada menu “Share Screen”

5. Pada layar yang terbuka nanti, tekan pada nama Dongle yang muncul (pada contoh ini tertera: [DONGLE]BCE149)

6. Apabila koneksi berhasil, maka tampilan yang akan anda temukan adalah seperti ini:

Pict #6: Tampilan menu Settings – Display setelah berhasil terkoneksi

SELAMAT! Pada saat ini, coba anda lihat ke layar TV/LCD Projector anda, seharusnya disana telah tampil isi layar Blackberry anda. 🙂

Pict #7: Tampilan Z3 telah mirroring ke TV

Pict #8: Masih pada posisi Potrait

Pict #9: Posisi Potrait dengan 3 aktif windows di Blackberry Z3.

Pict #10: Orientasi yang ditampilkan pada TV mengikuti orientasi HH Z3 (potrait / landscape).

Proses menghubungkan perangkat Blackberry BB10 ke AllShare Cast dongle telah selesai. Silahkan menikmati isi ponsel anda di layar besar. 😀 Lumayan bisa membuat lawan bicara kita terpana dengan alat – alat kecil yang kita miliki, tapi sangat membantu sekali baik dari sisi setup maupun lain-lain. Jangan tertipu gambar, bentuk alatnya sangat mungil dan ringan sekali. 🙂 Koneksi kami perkirakan menggunakan WiFi Ad-Hoc (langsung antar perangkat), oleh karena itu di Blackberry Z3, koneksi WiFi-nya harus dimatikan baru bisa bekerja, sedangkan di GNote 8 yang sudah dual-band (2.4GHz & 5GHz), tetap bisa terhubung ke WiFi network seraya terkoneksi ke AllShare Cast dongle.

Oh ya, untuk perangkat Samsung, cukup mengaktifkan “screen mirroring” dan pilih donglenya, maka akan langsung terhubung (selama posisi lampu indikator dongle berwarna biru).

Menurut hasil pengetest-an kami, video/music/game yang diputar baik di Blackberry Z3 maupun Gnote8, suaranya keluar dari TV, akan tetapi, program untuk program Skype, suara tetap muncul dari Handset kita.

Silahkan apabila rekan-rekan memiliki pertanyaan, untuk menuliskannya pada bagian comment dibawah ini. Mudah-mudahan bisa dibantu. Sampai jumpa lagi.

 

Salam SUKSES LUAR BIASA,

– B2B –

Berbondong-bondong ke Indonesia? MotoG!

Pagi B2B-ers,

Apa kabar? Ada hal yang luar biasa di Indonesia, terlepas dari pemilu Presiden tanggal 9 Juli 2014 nanti, belakangan ini sedang menjadi tren tersendiri, banyak petinggi-petinggi perusahaan terkemuka yang hadir ke Indonesia dalam rangka launching product smartphone mereka. Hem.. apakah itu bagus bagi kita? Mudah-mudahan bagus…. karena sebagai konsumen, kita memiliki lebih banyak pilihan barang berkualitas dengan harga terjangkau.

Pict #1: Launching MotoG @ Prive; FX Sudirman, Jakarta Indonesia.

Ok, kabar terbaru adalah, kemarin (05-06-14) Motorola Mobility, baru melaunching MotoG, sebuah ponsel pintar berbasis Android KitKat, seharga Rp. 2jutaan, tersedia dalam kapasitas 8GB & 16GB. Yupe! Hanya 2jutaan dengan sistim operasi google Android terbaru (KitKat).

Pict #2: Fisik MotoG

Apa saja sih kemampuan MotoG sehingga layak dipertimbangkan?

Pict #3: Fitur-fitur MotoG

Ponsel ini memiliki layar 4.5″ HD Display, Battery yang tahan untuk aktifitas seharian, mendapatkan jatah google drive sebanyak 65GB (selama 2 tahun), dan yang terpenting, karena orang Indonesia cendrung memiliki banyak no ponsel, MotoG yang dipasarkan di Indonesia sudah Dual-SIM. Koneksi data 3G bisa menggunakan SIM1 maupun SIM2.

Pict #4: Marcus Frost (SVP Marketing EMEA – APAC Motorola Mobility) sedang menjelaskan fitur MotoG.

Tak kalah pentingnya, mengingat iklim tropis di Indonesia, MotoG juga telah dilengkapi Nano-Coating loh. Nano-Coating membuat MotoG lebih tahan air, entah itu kecipratan air hujan sewaktu berkendaraan, atau tidak sengaja di tempat umum (resto / cafe).

Yang unik bagi Indonesia adalah, pendistribusiannya secara eklusif hanya dilakukan secara online oleh Lazada Indonesia bekerja-sama dengan Telkomsel.

Pict #5: Magnus Ekbom (CEO Lazada.co.id)

Anda bisa memesan melalui website Lazada.co.id Bagi anda yang tidak bisa mengakses internet, tidak perlu khawatir, untuk memesannya, anda cukup menghubungi call center Lazada pada pesawat (021) 29490200 (Senin-Jumat 09:00 – 21:00; Sabtu-Minggu & Hari libur nasional 09:00 – 18:00)

Oh ya, periode pre-order di Lazada.co.id adalah sebagai berikut:
8GB dari 5 Juni – 8 Juni
16GB dari 5 Juni – 27 Juni

Sssttt! Harga di Indonesia paling murah dibandingkan harga-harga di negara lain loh… Ini suatu hal yang patut kita syukuri, padahal USD sedang tinggi, dimana harga handphone lain cendrung naik, tapi MotoG tetap ramah dikantong. 🙂 Saat ini juga banyak promo-promo tambahan discount serta cicilan 0% dari hampir semua bank penerbit kartu-kredit

Pict #6: Kerja-sama dengan berbagai institusi

(Note: Sebaiknya ambil yang memory Internal 16GB. Karena MotoG tidak memiliki slot MicroSD card, sehingga kalau kurang kapasitas penyimpanan tidak dapat ditambah belakangan).

Jadi, ucapkan Selamat datang pada MotoG! Ya, ya, ya…..

Pict #7: Ki-Ka (Arief Pradetya Telkomsel, Magnus Ekbom Lazada, Simon Collinson GM EMEA APAC, Marcus Frost SVP EMEA APAC)

Beberapa hal “kecil” berpengaruh di fitbit.

Setelah gembira mendapatkan pinjaman fitbit force dari seorang kawan baik, ada beberapa hal yang saya temukan.

Cara setting fitbit force (serta fitbit lainnya), harus mengkoneksikan ke device (boleh iOS; boleh Android). Khusus fitbit force, setup termasuk menyesuaikan jam.
Pertama saya pikir, setelah setup lewat aplikasi (menghubungkan tracker) ke account kita, pekerjaan telah selesai, ternyata setelah itu ditemukan :

1. Perhitungan jarak tempuh tidak akurat.

2. Bagaimana cara mengaktifkan mode aktivitas (serta apa itu aktivitas).

Cari punya cari, serta komunikasi dengan fitbit support, ternyata kita harus setting profile data diri dari website fitbit (di app iOS & Android tidak ada setting dimaksud).
Pertama login lah dari http://www.fitbit.com
Kemudian click pada gambar roda dibagian kanan atas, serta pilih settings.

Seperti gambar terlampir, nilai awal dari jarak langkah kaki (1) & jarak langkah kaki pada saat berlari (2) di masukkan 0, artinya fitbit akan menggunakan informasi umum berdasarkan jenis kelamin (a), umur (b), tinggi badan (c) serta berat tubuh (d) sebagai acuan menghitung jarak tempuh dan pembakaran kalori.

Untuk mendapatkan hasil yang akurat, pihak fitbit menyarankan mengukur jumlah langkah kaki yang dibutuhkan menempuh jarak yang telah diketahui secara pasti. Harap diperhatikan, jumlah langkah yang dibutuhkan minimal 20 langkah.

Misalkan anda mempunyai lintasan 100m, silahkan dihitung, berapa langkah yang anda perlukan untuk melewatinya. 100/jumlah langkah = jarak langkah kaki anda. Hal yang sama juga berlaku untuk menghitung jarak langkah pada waktu anda berlari.

Setelah mengetahui jarak langkah anda, masukkan pada field no 1 & 2. Nah, mudah-mudahan, fitbit akan menunjukkan jarak mendekati aslinya. 🙂

Oh ya, untuk mengaktifkan activity mode, tekan & tahan tombol power sampai menunjukkan stopwatch. Setelah selesai beraktifitas tekan kembali tombol power di fitbit force untuk keluar dari mode aktivitas. Selanjutnya, aktifitas tersebut dapat di edit pada website fitbit.com

Untuk yang berada di Indonesia atau ingin saling mendukung hidup sehat, silahkan bergabung di fitbit yuk…

Sampai ketemu di fitbit.

%d bloggers like this: