Battle of Cast Dongles! (Samsung AllShare cast vs Google Chromecast 2 vs Ezcast 5G)

Hi B2B-ers,

Pa kabar semua?

Setelah tergelitik membaca sharing dari seorang sesepuh per-gadget-an Indonesia (Lucky Sebastian aka @Gadtorade), jadi gatal ingin menulis lagi, dan kebetulan baru sempat juga sih… 🙂

Menurut kang Lucky, yang perlu dicari adalah penyampaian sebuah sudut yang biasanya terlewatkan oleh reviewer lain. 🙂 Nah kali ini, karena (kebetulan) anak saya sendiri berkomentar, kok dongle cast sampai berbuah-buah dan macam-macam, memangnya bedanya apa sih? Nah di mulai lah tulisan ini…

Pertanyaan mendasar..

1. Apa fungsi dasar sebuah dongle cast?
Kegunaan penting sebuah Dongle Cast adalah menampilkan isi layar (berikut audio/suara) handphone/tablet ke layar besar (misal TV atau LCD Projector). Se-enak-enaknya nonton film di layar handphone terbaru, tentunya lebih nikmat bila ditonton di layar bioskop bukan? 😀

2. Jenis koneksi dari dongle cast ke handphone?
Tujuannya adalah menampilkan layar serta suara dari handphone ke layar besar secara nir-kabel.. jadi tidak ada kabel berseliweran di antara handphone kita dengan layar/TV. Enak toh? 🙂

Kebetulan saya memiliki 3 buah dongle cast, mulai dari Samsung AllShare cast, Google Chromecast 2 dan Ezcast 5G. Penasaran mau tahu keunggulan dan kekurangan dari masing-masing dongle cast tersebut? Yuk, mari lanjut dibaca…

Yang akan dibahas di mulai dari Samsung AllShare Cast dongle (paling tua), baru Google Chromecast 2 dan Ezcast 5G ya.

A. SAMSUNG AllShare Cast Dongle

Awal-nya menggunakan device Samsung, kebetulan sudah bisa melakukan presentasi menggunakan PowerPoint mobile. Terbayangkan betapa nikmatnya apabila bisa melakukan presentasi tanpa harus berdiri disamping LCD projector, atau kalau kebetulan hanya membawa handphone dan tidak membawa laptop, bagaimana caranya bisa presentasi ke sekelompok orang yang lebih besar? Sering juga setelah anak mengikuti kegiatan di sekolah, orang tua ingin melihat cucu-nya, dan selama ini kesulitan, karena harus memindahkan dulu file dari dalam handphone agar dapat diputar di TV.

Saat ada kesempatan, segeralah di pinang sebuah Samsung AllShare Cast Dongle..Awal dikeluarkan, harganya cukup indah menguras kantong (> IDR 800.000), apa sih isi paket AllShare Cast?

Sebuah dongle AllShare Cast, sebuah cable MicroUSB – USB, sebuah adaptor 5V 1A dan sebuah kabel HDMI untuk mengkoneksikan ke layar/TV.

Keunggulan yang di dapatkan dalam menggunakan AllShare Cast:

1. Pairing antara dongle dengan perangkat sangat mudah. Cukup menekan tombol di belakang AllShare Cast Dongle (sekitar 1 detik hingga warna led berubah-ubah biru & merah), kemudian kita cari dari perangkat yang ingin dihubungkan.

2. Selain perangkat Samsung, AllShare Cast juga mendukung protokol MiraCast, jadi bisa melakukan mirroring menggunakan perangkat Blackberry maupun Intel Wireless Display.

3. Direct koneksi via WiFi antara perangkat dengan dongle, tanpa memerlukan router.

4. Sudah mendukung resolusi 1920 x 1080 (FullHD)

Kekurangannya:

1. Perangkat Apple belum dapat terhubung ke dongle ini

2. Karena koneksinya masih 802.11n, saat kita di-area interference tinggi kadang suka putus-putus. Wajar, karena teknologi 802.11n sudah lumayan “lama” tapi pada masa-nya merupakan yang terbaik.

3. Saat mirroring, kita tidak dapat menggunakan perangkat kita untuk hal lain.

4. Apabila perangkat kita tidak mendukung dual-band WiFi, maka otomatis tidak dapat terhubung ke internet saat kita terhubung ke AllShare Cast Dongle.

B. Google Chromecast 2

Setelah menemukan AllShare Cast suka putus-putus, serta belum mendukung perangkat Apple (AirPlay), maka pencarian menemukan perangkat dilanjutkan.

Kebetulan (lagi), menemukan penawaran asik dari salah satu toko online. Dan tersedia warna yang tidak pasaran, yaitu merah (penting banget ya?) Maksudnya apabila digunakan saat event, tidak akan ada yang menyamai, karena biasanya orang memiliki Chromecast berwarna hitam. 😀 Oh ya, yang terbaru adalah Google Chromecast 4K, akan tetapi karena perangkat 4K masih mahal dan jarang serta harganya masih mahal, jadi diputuskan untuk meminang Google Chromecast 2 saja.

 

Dalam bagian dalam cover Google Chromecast, tersedia petunjuk cara memulai mensetting / menggunakan Chromecast ini.

 

Keunggulan:

1. tidak memerlukan kabel HDMI terpisah, karena kabelnya sudah menempel jadi 1 dengandongle.

2. Cara kerja perangkat – router – google Chromecast 2; untuk setup awal, memerlukan aplikasi Google Home (tersedia baik di Android Playstore maupun iTunes Store).

3. dapat di kustom menggunakan wallpaper photo-photo yang telah kita upload di account Google Photos.

4. Saat kita men-cast suatu tayangan misal youtobe, maka layar handphone bisa dimatikan dan film tetap tambil dilayar, karena Chromecast yang langsung terkoneksi ke-internet via router.

5. Setiap awal dihidupkan, otomatis mengupdate firmware terbaru (apabila ada).

6. Karena koneksi via router, kekuatan router menjadi penentu apakah presentasi lancar / putus-putus.

7. Dapat menampilkan isi layar dari iOS/Android, PC Windows maupun Mac.

8. Menggunakan standard WiFi 802.11ac

Kekurangan:

1. Dalam bekerja memerlukan koneksi ke router yang terhubung ke internet. Tidak bisa bekerja tanpa router & koneksi internet.

2. Bentuknya masih tidak agak gemuk dan dilengkapi dengan magnet yang cukup kuat, khawatir merusak data di flashdisk dan lain-lain apabila diletakan dalam tas.

3. Audio tidak dapat di pilih agar dikeluarkan dari perangkat, semua otomatis di keluarkan via HDMI (video & audio).

4. Memerlukan google account untuk mensetup dan menggunakan Chromecast.

5. Mirroring dari laptop, hanya dapat dilakukan via Google Chrome, jadi kita perlu menginstall Google Chrome sebagai peramban di laptop tersebut.

C. EZCAST 5G

Dikarenakan kekurangan google ChromeCast no 3 & 4 diatas, akhirnya saya kembali mencari dongle yang dapat menampilkan isi layar iOS/Android maupun PC Windows & Mac. Awal-awalnya banyak barang palsu bertebaran di online market maupun offline. Sampai suatu ketika menemukan yang sama persis seperti yang tercantum di website resmi Ezcast (iezvu.com). Hampir membeli produk yang salah, karena gambar yang ditambilkan memang Ezcast 5G, akan tetapi deskripsi berbeda dengan iezvu, kemudian setelah berdiskusi akhirnya diputuskan untuk membatalkan pesanan dan mencari seller lainnya.

Jreng… original EZcast 5G ditemukan dan dipesan… saat pesanan sampai, langsung saya cek…

 

Bagian bawah kardus memiliki informasi sebagai berikut:

Isi dari paket penjualannya:

Khusus untuk Ezcast 5G, pastikan pada perangkat WiFi adapter terlampir, tertera tulisan dual-band (2.4GHz / 5GHz). Frekuensi 5GHz, biasanya masih jarang interferensi serta memiliki bandwidth yang besar, sehingga presentasi anda tidak putus-putus.

Keunggulan:

1. Koneksi ke EZcast di awal menggunakan aplikasi yang dapat di download pada Playstore maupun iTunesStore. Selebihnya bisa langsung mengakses informasi yang tertera di layar.

2. Mendukung koneksi dari iOS / Android maupun PC Windows & Mac.

3. WiFi sudah dual-band seperti Google Chromecast 2.

4. Standard WiFi terkini 802.11ac

5. Cara menghubungkan ke dongle bisa dipilih salah satu direct link antara perangkat ke dongle tanpa melalui router atau melakukan hubungan via router.

6. Saat perangkat terhubung ke dongle tetap bisa mengakses internet.

7. Lebih ringan dbandingkan Google Chromecast 2.

Kekurangan:

1. dalam paket penjualan tidak disertakan power adaptor

2. banyak palsu-nya, harus hati-hati dalam memilih.

Kira-kira demikian review part 1 ya.. apakah ada yang tertarik melihat vlog masing-masing device in action? Coba tinggalan komen dibawah, agar saya tahu yang ingin diketahui kawan-kawan apa sih? 🙂 Semoga bisa jadi vlog-nya ya.

Sementara sekian, sampai ketemu lagi di blog maupun VLOG….

Advertisements

Mungil-mungil cabe rawit… Xiaomi Yi Cam 4K (2016) edition.

Hi B2B-ers,

Apa kabar kalian liburan kemarin?

Karena pergi berwisata ke Umbul Punggok, Klaten – Jawa Tengah, akhirnya jadi kepincut mencari action cam ekonomis.

Setelah browsing sana sini, tanya-tanya kawan serta browsing Internet, akhirnya memutuskan meminang Xiaomi Yi Cam 4K (2016) karena beberapa pertimbangan berikut ini:

1. Kapasitas battery 1400mAh
Sekali charge bisa tahan 2 jam dalam merekam video non-stop.

2. Chipset yang digunakan Yi Cam 4K – 2016 (Ambarella A9SE75) sama (bahkan lebih baru) dengan yang digunakan GoPro HERO4 (Ambarella A9)

3. Image sensor ditenagai oleh IMX377 1/2.3″ sensor gambar yang dapat mengambil video beresolusi 4K sebanyak 30 frames-per-detik, serta mengambil gambar diam dengan sensor 12MP. Pada bagian depannya adalah lensa cepat f/2.8 7-lapisan lensa kaca yang menawarkan pandangan selebar 155.

4. Optical Image Stabilizer yang sangat baik untuk pengambilan gambar/video (GoPro tidak memiliki fungsi OIS)

5. Memiliki 2.19″ layar sentuh untuk mengakses menu serta pengaturan lainnya (640×360 pixels – 330ppi)

6. Mendukung koneksi WiFi (2.4GHz & 5GHz), serta Bluetooth v4.1. Sayangnya koneksi WiFi yang berguna untuk terkoneksi ke smartphone (iOS / Android melalui aplikasi Yi Cam), sedangkan koneksi Bluetooth hanya dapat terkoneksi ke remote Xiaomi Yi Cam.

Perburuan dimulai, kebetulan keluarga mengijinkan sebagai kado istimewa ultah.. Akhirnya diputuskan untuk memesan secara online, dan sayangnya pengiriman menjadi terlambat dari jadwal semula (hal baru?) Belum lagi, sempat toko sebelah menawarkan barang yang sama dengan harga yang jauh lebih ekonomis… ya sudah kepalang basah, (tutup mata saja deh). 😀

Akhirnya sebelum pesanan datang, kami memesan 3 buah battery cadangan, 1 buah remote bluetooth Xiaomi Yi (untuk menemani tongsis), serta docking charger battery, sayangnya, ketentuan pengiriman saat ini, tidak bisa mengirimkan battery.. jadi akhirnya hanya dikirimkan remote Xiaomi Yi serta docking battery. Jadi yang masih pending saat ini, adalah casing waterproof biar bisa foto dalam air, berikut battery cadangan, agar lebih nyaman dibawa keliling 😀

Alkisah, pesanan datang, dengan H2C (harap-harap cemas), segera membuka kemasan pesanan, ternyata kotak action camera itu sangat-sangat mungil… Hampir tidak percaya, belum lagi dibagian luarnya gambarnya berwarna putih, padahal kami memesan warna hitam. Pikirnya ya sudahlah, yang penting barang sudah diterima.

Begitu melihat karema pertama kali, terus terang cukup terkejut … karena ukurannya yang sangat mini. 🙂 Bagi yang belum bisa membayangkan seberapa mini-nya, ini kami letakkan kamera dimaksud pada keyboard laptop. Panjangnya hanya kurang lebih 4 tuts keyboard (Fn, Control, Option, Command) LOH!

Tidak terlihat sesuatu yang istimewa pada perangkat ini, build quality lumayan, tidak terlihat murahan..
Memasukan serta mengeluarkan battery untuk pertama kali sangat menjadi PR, karena lumayan seret.. 🙂
Layar yang ada adalah touchscreen, artinya dapat disentuh-sentuh untuk merubah pengaturan.. contohnya:
1. Usap dari sisi paling atas layar ke bawah, akan membuka akses koneksi, baik itu WiFi, Bluetooth, settings, dan sebagainya.
2. Usap dari sisi paling bawah layar ke arah atas, akan memunculkan pilihan photo, timer, video, video timelapse, dan sebagainya.

Kualitas layar cukup baik, mudah terlihat jelas dibawah sinar matahari, pada bagian kanan atas terdapat icon WiFi serta status battery, sedangkan di sisi kiri menyajikan informasi berapa banyak photo / menit video yang masih dapat disimpan ke dalam kartu memory (MicroSD card).

Oh ya, untuk perekaman video 4k, kami sarankan menggunakan memory card minimal Class 10 UHS-I, sebaiknya yang memiliki speed read/write diatas 80MB/s. Saran kami, carilah merek-merek seperti Sandisk, Samsung, yang karuan, jangan yang abal-abal.

Yang tak kalah mengejutkannya, yaitu remote Xiaomi Yi Cam. Ternyata fisiknya sangat-sangat mungil ya… sampai-sampai khawatir menghilangkannya, kelupaan dan tercecer dimana.

Berikut ini photo Xiaomi Yi Cam remote dibandingkan dengan sebuah USB Flashdisk. Sudah kebayang berapa besarnya? 🙂

Kejutan belum berakhir, ternyata si remote tersebut dimasukan ke dalam sarung, dan apabila dikeluarkan maka bentuk fisiknya akan makin kecil lagi. 😀

Sementara ini, karena belum mendapatkan battery cadangan, docking masih nganggur. *he he he he* Kalau ada yang punya, silahkan tinggalkan pesan ya.. 🙂

Oh ya, karena iseng ada gorillapod nganggur, jadinya coba dipasangkan di dalam mobil, dan hasilnya luar biasa, bisa menjadi dash cam dengan sudut lebar (wide). 🙂

Pengalaman penggunaan sampai hari ini:

1. Update firmware agak menghawatirkan, karena saat terhubung ke smartphone, otomatis mengunduh firmware terbaru, dan apabila koneksi internet kita tidak stabil, firmware yang diunduh tidak sempurna dapat menyebabkan action camera rusak. Ada beberapa rekan yang mengalami WiFi bermasalah setelah auto upgrade.

2. Optical Image Stabilisation-nya sangat terasa, karena hasil video menjadi tidak terguncang-guncang…

3. Dicoba menangkap gambar video timelapse saat malam hari, gambar tetap terlihat jelas tanpa noise yang berarti. Urusan video, nanti hasilnya coba diupload ke youtube deh ya…

A. Sementara nikmati dulu persembahan pujian dari pak George di youtube berikut ini (direkam dalam ruangan – indoor).

B. Rekaman di dalam mobil berjalan, sebagai dash-camera, dapat dilihat pada link berikut ini.  Lihat bagaimana EIS bekerja dan bagaimana hasilnya pada video time-lapse yang direkam.

Selanjutnya apabila ada yang ingin tahu akan diinformasikan disini setelah video lainnya selesai diupload. 😀 Come back for more info, begitu ceritanya. 🙂

Apalagi ya? Sementara itu saja dulu ya…

Sampai ketemu lagi…

 

Salam,

– B2B –

Apakah mungkin membuat video seperti seorang PRO?

Pertanyaan diatas sangat-sangat sulit, dan sering kali menjadi perdebatan antara bisa atau tidak, lebih banyak akan berpendapat, ya mungkin saja kalau dia (orang itu) sedang beruntung (lucky shoot), atau pendapat lainnya, mungkin saja asalkan ….. menggunakan / didukung peralatan yang memadai, yang lain akan berpendapat, paling penting man behind the gun (orang yang memegang alat yang menentukan apakah hasil-nya bagus/tidak).

Apa-pun pendapat yang muncul, kebetulan kali ini kami mendapatkan pinjaman sebuah tongkat video, yang lebih dikenal sebagai DJI OSMO.

Mungkin banyak yang bingung, DJI OSMO itu barang apa ya? Merek DJI biasanya terkenal untuk sebagai pembuat drone yang bagus (tapi mahal banget!). *he he he he* 😀

Ya, anda benar, DJI membawa teknologi drone yang telah dimodifikasi agar dapat dipegang oleh tangan. Kelebihan-nya adalah: Karena memiliki 3 ways sensors (lebih dikenal sebagai GIMBAL), maka video/gambar yang dihasilkan bebas dari getaran. Foto alat DJI OSMO dapat dilihat dibawah ini.

Loh, ternyata DJI OSMO itu tidak memiliki layar sendiri ya? Benar, walaupun tanpa “layar”, perekaman tetap dapat dilakukan, hanya saja kita tidak mengetahui apa yang sedang direkam bukan? Untuk itu diperlukan alat bantu berupa ponsel pintar. DJI OSMO mendukung baik ponsel yang berbasis iOS (iPhone) maupun berbasis Android. Jadi apa-pun ponsel yang anda gunakan, seharusnya telah mendukung konektifitas ke DJI OSMO.

Cara menghubungkan DJI OSMO ke ponsel-pun terbilang unik. Pertama anda perlu mendownload aplikasi DJI GO di AppStore sesuai sistim operasi ponsel anda. Kemudian hidupkan DJI OSMO dan cari WiFi-ID OSMO_xxxxxx; koneksikan ponsel ada ke WiFi-ID OSMO_xxxxxx tadi dengan password standar 12341234.

Setelahnya baru anda buka aplikasi DJI GO yang sebelumnya telah anda download. Nah, pengaturan lebih lanjut dari DJI OSMO dapat anda lakukan via aplikasi DJI GO ini. Mau shooting manual (pilih ISO dan Shutter Speed sendiri), menggerakan/mengontrol pergerakan camera, atau apa-pun itu.

Untuk contoh shoot menggunakan DJI OSMO akan di share dalam bentuk link youtube di update berikutnya… So stay tune ya…

Kesimpulan mengenai perangkat DJI OSMO:

KELEBIHAN:
+. Hasil video kualitas cinematic dan sangat stabil (tidak goyang-goyang)
+. Mendukung resolusi sampai 4K 30frames (paling kecil HD 1280x720p 24frames)
+. Battery tahan +/- 45-60menit
+. Lensa standard Zenmuse X3 viewing angle-nya cukup lebar
+. Build-in WiFi (2.4GHz/5GHz), bisa langsung diintip hasilnya menggunakan mobile devices (iOS/Android)
+. Perlu sedikit latihan agar dapat menghasilkan efek-efek yang diinginkan (misal seolah-olah gambar diambil dari Jimmy Jeep)
+. Kapasitas penyimpanan menggunakan MicroSD card UHS-1 atau Class10 (ilustrasi penyimpanan video 4K di 16GB up-to 36 menit dan up-to 145menit menggunakan 64GB MicroSD Card)

KEKURANGAN:
-. Suara kipas pendingin akan terekam masuk (harus dihilangkan saat post-pro)
-. Tidak bisa merekam langsung ke Device yang saat itu terhubung
-. Suara yang terekam cukup sayup-sayup, perlu di normalisasi pada tahap post-pro
-. Perpindahan dari mode record biasa ke slow-motion harus menghentikan proses rekaman kemudian mulai kembali
-. Tidak bisa sambil mengambil video kemudian melakukan photo

3 hari pertempuran Samsung Gear S2 vs Pebble Time.

Selamat tahun baru 2016,

Memenuhi janji kami di BBM, silahkan disimak pertempuran akbar antara wearable device terbaru dari Samsung (Gear S2) vs Pebble Time.

Tanggal 23 Desember 2015, akhirnya kiriman sebuah Samsung Gear S2 berwarna hitam datang. Akan tetapi dikarenakan kesibukan akhir tahun, baru tanggal 3 Januari 2016 uji coba mulai dapat kami lakukan.


Pict #1: Bukti masih segel sampai 3 Januari 2016. 🙂

Tentunya pada penasaran isi dalaman kotak Samsung Gear S2 ada apa saja ya?


Pict #2: begitu dibuka langsung terlihat unit Samsung Gear S2.


Pict #3: disebelah bawah ada cradle wireless charger, adaptor MicroUSB 700mAh, buku panduan serta sebuah extra strap berwarna abu-abu.


Pict #4: paket isi Gear S2 yang kami terima.
(Catatan: entah apakah semua Gear S2 dari SEIN memang mendapatkan strap extra atau tidak).


Pict #5: Gear S2 di charge terlebih dahulu sebelum di utak-atik.

Mengikuti petunjuk di buku manual, kami melakukan charging hingga penuh. Menggunakan adaptor pihak ketiga, charging dari 70% menuju 100% membutuhkan waktu +/- 20menit.  Berdasarkan alat pengukuran arus, saat battery sisa 17%, arus yang mengalir dari catu daya ke wireless charging pad Gear S2 adalah sebesar 200mAh saja.


Pict #6: saat 100% lampu indikator di docking berubah menjadi hijau.

O ya, bentuk dockingnya agak unik, karena pada saat didekatkan ke charging pad, unit Gear S2 seperti menempel dengan magnet ke docking station-nya.

Ritual menghubungkan Gear S2 ke handphone, tidak cukup hanya mengandalkan aplikasi Samsung Gear yang terinstall di handphone, ada tambahan langkah penting (yang tidak terdokumentasikan), yaitu pertama-tama anda harus melakukan pairing Bluetooth secara manual antara Gear S2 dengan handphone.  Setelah melakukan hal tersebut, baru aplikasi Samsung Gear dapat terhubung ke Samsung Gear S2.


Pict #7: setelah terhubung otomatis mengunduh update untuk Gear S2.


Pict #8: masih harus menyetujui beberapa hal


Pict #9: akhirnya, dimulai dengan memilih aplikasi mana saja yang notifnya muncul di Samsung Gear S2.


Pict #10: menu utama aplikasi Samsung Gear setelah terhubung

Pict #11: Samsung Gear S2 sedang menyelesaikan update software / Sisa storage di Samsung Gear S2 (4GB – 1.87GB).

Tentunya pada bingung, Storage (penyimpanan), di jam tangan?  Apa tidak salah tulis?  Tentu saja tidak salah tulis,  ruang penyimpanan itu dapat diisi baik dengan berkas musik (lagu), maupun berkas foto.  Sayangnya, foto yang disimpan pada Gear S2 tidak dapat dijadikan background untuk watch-face, kecuali menggunakan aplikasi pihak ketiga (seperti MrTimeMaker.com)

Gear S2 memiliki 512MB RAM dan 4GB ruang penyimpanan.  Pada saat awal, ruang penyimpanan yang telah digunakan sebesar 1.87GB, sisanya dapat diisi sesuka hati, mau foto selfie terbaru ataupun berkas lagu semua boleh.  Dapat kita definisikan agar ada folder tertentu di HP yang secara otomatis sync ke Gear S2, setiap kali kedua alat terkoneksi.

Lalu apa gunanya menyimpan berkas lagu di jam tangan?  Dugaan anda benar, seandainya anda penggemar olah-raga lari, anda dapat memutar lagu langsung dari Gear S2 dan didengarkan lewat bluetooth headphone.  Dengan dukungan waterproofing IP68 pada Gear S2, tentunya anda tidak perlu takut berolah-raga lari dan tiba-tiba turun hujan. 🙂  Simpan ponsel mahal (tapi tidak anti air) kita di tempat yang aman. 😀

image31

Pict #12: Target olah-raga dengan pengukuran detak jantung sepanjang waktu

Detak jantung kita diukur bukan hanya pada saat melakukan olah-raga,  salah satu keunggulan Gear S2, setiap jam secara otomatis detak jantung kita dipantau dan di sync ke S-Health.  Pada akhirnya kita akan memiliki data detak jantung sewaktu-waktu. 🙂

Kesan awal yang di dapatkan saat memegang Gear S2 vs Pebble.

Gear S2:
1. Secara material lebih tebal dan berat
2. Material strap (tali) dari bahan PVC kaki sama seperti keluarga Gear lainnya (biasanya suka pecah – pecah setelah beberapa waktu).

Pebble:
1. Secara keseluruhan lebih terasa ringan
2. Material strap (tali) dari bahan mirip karet lunak.

Software penghitung langkah kaki di Gear S2 lebih “pelit” dibandingkan Pebble “health” maupun “Misfit”.

Waktu pertama kali digunakan (charging ke 1), Gear S2 hanya bertahan sekitar 19jam (dari 100% -> 17%). Pada cycle ke-dua, setelah 25jam masih tersisa 35%. Pada cycle ke-tiga, dari jam 06AM sampai jam 16 sore masih tersisa 80%.

Perpaduan layar SAMOLED, rotating bezel & layar sentuh, membantu kita membaca pesan secara lengkap di Gear S2 serta memudahkan kita dalam membalas pesan.

Contoh mereply pesan BBM di Gear S2 vs Pebble. Di Gear S2 cukup menyentuh tombol reply (balas) kemudian memilih pesan yang diinginkan (2 langkah), sedangkan di Pebble harus menekan-nekan tombol fisik lebih dari 5 langkah untuk mendapatkan hasil yang sama.

image41

Pict #13: pesan BBM @ Gear S2

image51

Pict #14: scroll ke akhir pesan BBM dan langsung tap pada tombol Reply

image61

Pict #15: Pesan BBM di Pebble Time

image71

Pict #16: harus menekan beberapa tombol terlebih dahulu baru bisa sampai ke menu “Reply   >>

image81

Pict #17: Kembali menekan beberapa tombol baru bisa masuk ke menu “Template    >>

image91

Pict #18: (lagi) menekan beberapa tombol lagi baru mengirimkan balasan jawaban yang diinginkan.

Catatan:
Bagi anda yang menggunakan Samsung Gear S2 (baik tipe sport maupun classic), apabila anda tidak mendapatkan opsi yang sama persis dengan uraian kami diatas, coba install aplikasi Android Wear dari Google Playstore.  Aplikasi tersebut asli dari google, untuk memperluas fungsi smartwatch/wearable yang kita miliki.

Setelah menggunakan kedua-nya selama 3 hari sebagai perbandingan.  Kesimpulan yang kami dapatkan adalah:

Samsung Gear S2:

  1. Berguna dalam mengumpulkan data detak jantung sewaktu-waktu kita (selama 24 jam, bahkan saat kita tidur).
  2. Material strap perlu dicarikan alternatif, agar tidak mudah rusak
  3. Watchface dapat diganti langsung dari Gear S2 tanpa harus terhubung ke aplikasi Samsung Gear di handphone
  4. Ada ditemukan beberapa ketidaksesuaian UI, dimana seharusnya bisa melakukan pilihan dengan cara mengeser layar ke arah atas-bawah atau kiri-kanan, contoh: pada saat ingin setting watchface, ternyata fungsi geser layar ke arah atas-bawah harus menggunakan rotating bezel.
  5. Battery hanya tahan sekitar 1-2 harian (sebaiknya di charge setiap hari)
  6. Dapat digunakan sebagai standalone device untuk menelusuri RSS berita seperti Flipboard, dan ada watchface yang terhubung langsung ke CNN ataupun Bloomberg (bisa memasang stock watcher).
  7. Pada saat tidak terhubung ke handphone (melalui bluetooth), dapat terhubung langsung ke Internet via WiFi
  8. Layar SAMOLED lebih nyaman untuk dibaca, berwarna serta dapat menampilkan pesan panjang secara utuh
  9. Watch-face tidak selalu menyala seperti Pebble dengan e-Ink
  10. Dapat merekam voice memo dan hasilnya nanti ditransfer secara otomatis ke handphone menggunakan koneksi WiFi.
  11. Bobot jam secara keseluruhan lebih berat dibandingkan Pebble
  12. Tidak dapat melakukan tracking waktu tidur seperti GearFit
  13. Dapat membantu kita untuk lebih aktif, karena dapat diset untuk mengingatkan kita saat tidak beraktifitas selang beberapa waktu (misal setiap 1 jam sekali)
  14. Tersedia banyak watch-face, dan dapat juga menggunakan watch-face pihak ketiga (contoh: MrTimeMaker.com)
  15. Software penghitung langkah lebih akurat dibandingkan Pebble Health atau Misfit
  16. Bentuk-nya seperti jam biasa pada umum-nya (bulat) membuat kita lebih percaya diri (seperti menggunakan jam biasa)
  17. Getaran-nya (vibration) sangat halus, walaupun sudah di set ke yang paling keras, tetap lembut, sehingga kadang tidak terasa

 

Pebble Time:

  1. Dapat dihubungkan ke 2 perangkat (iOS & Android) secara bersamaan.  Fungsi Pebble di iOS hanya untuk menerima notifikasi, kontrol & kustomisasi Pebble dilakukan semua dari Android.
  2. Battery lebih tahan lama, dalam 1x charge cycle bisa tahan sekitar 3 harian baru minta di re-charge.
  3. Untuk membalas pesan, perlu effort yang lebih, karena harus menekan beberapa tombol fisik berulang kali.
  4. Secara umum bobot jam lebih ringan, tidak berasa menggunakan jam tangan
  5. Softwate Pebble Health / Misfit kurang akurat dalam menghitung langkah kaki
  6. Watch-Face selalu dalam kondisi hidup, terbaca baik di bawah matahari maupun tempat gelap (ada backlight)
  7. Tombol-tombol fisik agak keras
  8. Hanya dapat terhubung ke handphone lewat Bluetooth

Jadi kesimpulannya beli yang mana?

Bagi yang ingin memiliki smart-watch yang sekaligus bisa digunakan menyimpan berkas lagu yang bisa didengarkan lewat bluetooth headset, silahkan melirik Samsung Gear S2.

Sedangkan bagi yang memiliki lebih dari 1 perangkat, terlebih lagi apabila iOS & Android), dan ingin mendapatkan notifikasi dari kedua perangkat tersebut dalam 1 alat, silahkan melirik Pebble family.

Dan bagi yang tidak tahu menginginkan yang mana, sebaiknya membeli kedua-nya agar dapat digunakan secara bergantian maupun digunakan secara bersamaan seperti kami, masing-masing tangan 1 buah. :p

Bagi yang memiliki pendapat lainnya, silahkan dituliskan pada bagian komen dibawah ini 🙂

2016

Bosan dengan email SPAM? Gunakan email ALIAS saja, gratis dari iOS.

Hi,

Kali ini kami akan membagikan cara untuk menghindari SPAM email…

Sangat menjengkelkan, apabila kita telah memilih untuk tidak menerima e-mail menggunakan fitur unsubscribe, akan tetapi kita tetap mendapatkan e-mail yang tidak diinginkan. Apakah hal tersebut pernah terjadi kepada anda? Pastinya banyak dari kita yang terjebak dalam lingkaran tersebut.

Kabar gembira bagi para pengguna Apple iDevice (iOS), ternyata ada setting rahasia yang hanya dapat di akses melalui website icloud.com
Di icloud.com, setiap AppleID dapat membuat sebanyak 3 buah e-mail alias dengan akhiran “@icloud.com”; mau tahu caranya?

Gampang kok, begini caranya….

1. Gunakan desktop PC (mac/windows), buka website www.icloud.com

2. login menggunakan AppleID milik anda (ya iya, masa milik teman sih :D)

3. kemudian click pada icon “Mail”.

Keterangan: halaman utama setelah login iCloud.com

4. Setelah halaman e-mail terbuka, click pada icon gear (roda bergerigi) pada pojok kiri bawah dan pilih “Preferences”

Keterangan: Klik pada icon roda bergerigi

Keterangan: Muncul pop-up menu, pilih Preferences

5. Selanjutnya, click pada “Accounts” (di sebelah “General”)

Keterangan: Apabila anda belum memiliki email aliases sebelumnya, maka akan tertera “You have 0 of 3 aliases”.

6. Sekarang click pada “Add an alias”

Keterangan: Akhiran e-mail alias akan selalu “@icloud.com

8. Masukkan bagian depan alamat email yang dikehendaki (pada contoh dibawah saya gunakan Horay-Horay), kemudian berikan label agar tidak bingung. Anda juga dapat memilih warna label yang diinginkan agar memudahkan identifikasi.

Keterangan: percobaan membuat alias

9. Pada contoh diatas, ternyata tidak diijinkan menggunakan kata penghubung. Alamat e-mail yang diijinkan Apple hanya Alphabet, angka, titik, dan garis penghubung bawah.


Keterangan: apa saja yang dapat digunakan sebagai e-mail alias

10. Masukan alias e-mail yang diinginkan (dengan mengikuti aturan Apple) kemudian click OK.

Keterangan: memilih detail alias

11. Selesai!

Keterangan: Alias yang baru dibuat, dapat di-matikan sementara (disable) ataupun dihapus apabila telah tidak digunakan.

Selamat, anda telah memiliki e-mail alias yang dapat digunakan untuk mendaftarkan diri pada situs-situs online. Dengan tidak menggunakan alamat e-mail utama (yang mungkin digunakan sebagai AppleID), anda telah menghindari diri dari salah satu kemungkinan untuk di hack.

Semoga tip 10 langkah mudah ini, membantu mengamankan data diri anda di Internet serta menghindari diri dari SPAM. 🙂 Begitu SPAM mulai masuk, maka anda dapat membuang alamat e-mail tersebut, kemudian membuat alias yang baru lagi. 😀

Sampai jumpa.

Salam,

– BanyakGaul –

Cara mudah memindahkan data dari Android ke iOS Apple!

Hallo…,

Tentunya sebagian besar dari kita pernah mengalami, susahnya pindah handset, terlebih lagi apabila handset pilihan kita menggunakan platform yang berbeda (Contoh: Android ke iOS Apple; maupun sebaliknya).

Setelah sekian tahun.. akhirnya masing-masing platform lebih membuka diri, saat ini telah tersedia cara memindahkan data-data kita baik dari Android ke iOS Apple maupun sebaliknya dari iOS Apple ke Android.

Bersama kehadiran iOS9, Apple juga menempakan sebuah aplikasi di playstore google, bernama “Move to iOS”.

Pict #1: Aplikasi “Move to iOS” buatan Apple Inc tersedia di playstore google

Pict #2: salah satu aplikasi buatan Samsung untuk memindahkan data dari iOS Apple ke Android Samsung.

Cara memindahkan datanya juga terbilang mudah… hanya saja memang beberapa jenis data saja yang dapat dipindahkan ke iOS, seperti, kontak, messages, photos & videos, bookmark URL, akun email, serta calendars, sedangkan aplikasi Android tidak dipindahkan (karena memang tidak kompatibel).

Selesai proses memilih data yang ingin ditransfer, aplikasi tersebut membuat private wireless network antara dua perangkat tersebut untuk memindahkan konten. Selesai proses pemindahan data, Move to iOS akan menginformasikan anda apabila ada konten yang tidak dapat dipindahkan ke iPhone/iPad baru anda.

Move to iOS mendukung handphone serta tablet menggunakan sistim operasi Android 4.0 ke atas, sedangkan perangkat apple yang bekerja dengan program ini adalah iPhone, iPad serta iPod touch yang sudah ber-iOS9.

Selamat menikmati iPhone baru anda…. #eh. 😀

Salam SUKSES LUAR BIASA,

– BanyakGaul –

Web WhatsApp mendarat di iPhone. :)

Akhirnya….

Setelah OS saudaranya (karena sama-sama berbasis Linux) mendapatkan fasilitas akses whatsapp menggunakan browser (perambah internet), sekarang whatsapp sedang dalam proses menyebarkan akses web whatsapp untuk iPhone (iOS).

Caranya, cukup buka whatsapp, kemudian pergi ke settings… harusnya disana muncul pilihan baru berupa “Whatsapp Web”. Tap disana, kemudian buka browser (perambah internet) di komputer, serta masuk ke alamat web.whatsapp.com, nanti ada QRCode yang harus kita scan lewat iPhone sehingga account kita terhubung.

Bagi yang (belum) tidak menemukan whatsapp web (seperti saya), jangan khawatir, karena saat ini memang sedang diluncurkan secara bertahap oleh sistim whatsapp. 🙂

Secara umum, web whatsapp dapat diakses menggunakan browser (perambah) Google Chrome, Mozilla FireFox, dan Safari. Perambah (browser) dari Microsoft (baik Internet Explorer & yang terbaru Microsoft Edge) tidak didukung.

Sayangnya, fungsi-fungsi khusus seperti voice recording, serta photo (via webcam di komputer) hanya di dukung apabila kita akses menggunakan browser Chrome & FireFox.

Jadi, mari sama-sama kita nantikan kehadiran akses whatsapp via web di iOS. 🙂

Salam SUKSES LUAR BIASA,

– BanyakGaul –

%d bloggers like this: