Mungil-mungil cabe rawit… Xiaomi Yi Cam 4K (2016) edition.

Hi B2B-ers,

Apa kabar kalian liburan kemarin?

Karena pergi berwisata ke Umbul Punggok, Klaten – Jawa Tengah, akhirnya jadi kepincut mencari action cam ekonomis.

Setelah browsing sana sini, tanya-tanya kawan serta browsing Internet, akhirnya memutuskan meminang Xiaomi Yi Cam 4K (2016) karena beberapa pertimbangan berikut ini:

1. Kapasitas battery 1400mAh
Sekali charge bisa tahan 2 jam dalam merekam video non-stop.

2. Chipset yang digunakan Yi Cam 4K – 2016 (Ambarella A9SE75) sama (bahkan lebih baru) dengan yang digunakan GoPro HERO4 (Ambarella A9)

3. Image sensor ditenagai oleh IMX377 1/2.3″ sensor gambar yang dapat mengambil video beresolusi 4K sebanyak 30 frames-per-detik, serta mengambil gambar diam dengan sensor 12MP. Pada bagian depannya adalah lensa cepat f/2.8 7-lapisan lensa kaca yang menawarkan pandangan selebar 155.

4. Optical Image Stabilizer yang sangat baik untuk pengambilan gambar/video (GoPro tidak memiliki fungsi OIS)

5. Memiliki 2.19″ layar sentuh untuk mengakses menu serta pengaturan lainnya (640×360 pixels – 330ppi)

6. Mendukung koneksi WiFi (2.4GHz & 5GHz), serta Bluetooth v4.1. Sayangnya koneksi WiFi yang berguna untuk terkoneksi ke smartphone (iOS / Android melalui aplikasi Yi Cam), sedangkan koneksi Bluetooth hanya dapat terkoneksi ke remote Xiaomi Yi Cam.

Perburuan dimulai, kebetulan keluarga mengijinkan sebagai kado istimewa ultah.. Akhirnya diputuskan untuk memesan secara online, dan sayangnya pengiriman menjadi terlambat dari jadwal semula (hal baru?) Belum lagi, sempat toko sebelah menawarkan barang yang sama dengan harga yang jauh lebih ekonomis… ya sudah kepalang basah, (tutup mata saja deh). 😀

Akhirnya sebelum pesanan datang, kami memesan 3 buah battery cadangan, 1 buah remote bluetooth Xiaomi Yi (untuk menemani tongsis), serta docking charger battery, sayangnya, ketentuan pengiriman saat ini, tidak bisa mengirimkan battery.. jadi akhirnya hanya dikirimkan remote Xiaomi Yi serta docking battery. Jadi yang masih pending saat ini, adalah casing waterproof biar bisa foto dalam air, berikut battery cadangan, agar lebih nyaman dibawa keliling 😀

Alkisah, pesanan datang, dengan H2C (harap-harap cemas), segera membuka kemasan pesanan, ternyata kotak action camera itu sangat-sangat mungil… Hampir tidak percaya, belum lagi dibagian luarnya gambarnya berwarna putih, padahal kami memesan warna hitam. Pikirnya ya sudahlah, yang penting barang sudah diterima.

Begitu melihat karema pertama kali, terus terang cukup terkejut … karena ukurannya yang sangat mini. 🙂 Bagi yang belum bisa membayangkan seberapa mini-nya, ini kami letakkan kamera dimaksud pada keyboard laptop. Panjangnya hanya kurang lebih 4 tuts keyboard (Fn, Control, Option, Command) LOH!

Tidak terlihat sesuatu yang istimewa pada perangkat ini, build quality lumayan, tidak terlihat murahan..
Memasukan serta mengeluarkan battery untuk pertama kali sangat menjadi PR, karena lumayan seret.. 🙂
Layar yang ada adalah touchscreen, artinya dapat disentuh-sentuh untuk merubah pengaturan.. contohnya:
1. Usap dari sisi paling atas layar ke bawah, akan membuka akses koneksi, baik itu WiFi, Bluetooth, settings, dan sebagainya.
2. Usap dari sisi paling bawah layar ke arah atas, akan memunculkan pilihan photo, timer, video, video timelapse, dan sebagainya.

Kualitas layar cukup baik, mudah terlihat jelas dibawah sinar matahari, pada bagian kanan atas terdapat icon WiFi serta status battery, sedangkan di sisi kiri menyajikan informasi berapa banyak photo / menit video yang masih dapat disimpan ke dalam kartu memory (MicroSD card).

Oh ya, untuk perekaman video 4k, kami sarankan menggunakan memory card minimal Class 10 UHS-I, sebaiknya yang memiliki speed read/write diatas 80MB/s. Saran kami, carilah merek-merek seperti Sandisk, Samsung, yang karuan, jangan yang abal-abal.

Yang tak kalah mengejutkannya, yaitu remote Xiaomi Yi Cam. Ternyata fisiknya sangat-sangat mungil ya… sampai-sampai khawatir menghilangkannya, kelupaan dan tercecer dimana.

Berikut ini photo Xiaomi Yi Cam remote dibandingkan dengan sebuah USB Flashdisk. Sudah kebayang berapa besarnya? 🙂

Kejutan belum berakhir, ternyata si remote tersebut dimasukan ke dalam sarung, dan apabila dikeluarkan maka bentuk fisiknya akan makin kecil lagi. 😀

Sementara ini, karena belum mendapatkan battery cadangan, docking masih nganggur. *he he he he* Kalau ada yang punya, silahkan tinggalkan pesan ya.. 🙂

Oh ya, karena iseng ada gorillapod nganggur, jadinya coba dipasangkan di dalam mobil, dan hasilnya luar biasa, bisa menjadi dash cam dengan sudut lebar (wide). 🙂

Pengalaman penggunaan sampai hari ini:

1. Update firmware agak menghawatirkan, karena saat terhubung ke smartphone, otomatis mengunduh firmware terbaru, dan apabila koneksi internet kita tidak stabil, firmware yang diunduh tidak sempurna dapat menyebabkan action camera rusak. Ada beberapa rekan yang mengalami WiFi bermasalah setelah auto upgrade.

2. Optical Image Stabilisation-nya sangat terasa, karena hasil video menjadi tidak terguncang-guncang…

3. Dicoba menangkap gambar video timelapse saat malam hari, gambar tetap terlihat jelas tanpa noise yang berarti. Urusan video, nanti hasilnya coba diupload ke youtube deh ya…

A. Sementara nikmati dulu persembahan pujian dari pak George di youtube berikut ini (direkam dalam ruangan – indoor).

B. Rekaman di dalam mobil berjalan, sebagai dash-camera, dapat dilihat pada link berikut ini.  Lihat bagaimana EIS bekerja dan bagaimana hasilnya pada video time-lapse yang direkam.

Selanjutnya apabila ada yang ingin tahu akan diinformasikan disini setelah video lainnya selesai diupload. 😀 Come back for more info, begitu ceritanya. 🙂

Apalagi ya? Sementara itu saja dulu ya…

Sampai ketemu lagi…

 

Salam,

– B2B –

Advertisements

Apakah mungkin membuat video seperti seorang PRO?

Pertanyaan diatas sangat-sangat sulit, dan sering kali menjadi perdebatan antara bisa atau tidak, lebih banyak akan berpendapat, ya mungkin saja kalau dia (orang itu) sedang beruntung (lucky shoot), atau pendapat lainnya, mungkin saja asalkan ….. menggunakan / didukung peralatan yang memadai, yang lain akan berpendapat, paling penting man behind the gun (orang yang memegang alat yang menentukan apakah hasil-nya bagus/tidak).

Apa-pun pendapat yang muncul, kebetulan kali ini kami mendapatkan pinjaman sebuah tongkat video, yang lebih dikenal sebagai DJI OSMO.

Mungkin banyak yang bingung, DJI OSMO itu barang apa ya? Merek DJI biasanya terkenal untuk sebagai pembuat drone yang bagus (tapi mahal banget!). *he he he he* 😀

Ya, anda benar, DJI membawa teknologi drone yang telah dimodifikasi agar dapat dipegang oleh tangan. Kelebihan-nya adalah: Karena memiliki 3 ways sensors (lebih dikenal sebagai GIMBAL), maka video/gambar yang dihasilkan bebas dari getaran. Foto alat DJI OSMO dapat dilihat dibawah ini.

Loh, ternyata DJI OSMO itu tidak memiliki layar sendiri ya? Benar, walaupun tanpa “layar”, perekaman tetap dapat dilakukan, hanya saja kita tidak mengetahui apa yang sedang direkam bukan? Untuk itu diperlukan alat bantu berupa ponsel pintar. DJI OSMO mendukung baik ponsel yang berbasis iOS (iPhone) maupun berbasis Android. Jadi apa-pun ponsel yang anda gunakan, seharusnya telah mendukung konektifitas ke DJI OSMO.

Cara menghubungkan DJI OSMO ke ponsel-pun terbilang unik. Pertama anda perlu mendownload aplikasi DJI GO di AppStore sesuai sistim operasi ponsel anda. Kemudian hidupkan DJI OSMO dan cari WiFi-ID OSMO_xxxxxx; koneksikan ponsel ada ke WiFi-ID OSMO_xxxxxx tadi dengan password standar 12341234.

Setelahnya baru anda buka aplikasi DJI GO yang sebelumnya telah anda download. Nah, pengaturan lebih lanjut dari DJI OSMO dapat anda lakukan via aplikasi DJI GO ini. Mau shooting manual (pilih ISO dan Shutter Speed sendiri), menggerakan/mengontrol pergerakan camera, atau apa-pun itu.

Untuk contoh shoot menggunakan DJI OSMO akan di share dalam bentuk link youtube di update berikutnya… So stay tune ya…

Kesimpulan mengenai perangkat DJI OSMO:

KELEBIHAN:
+. Hasil video kualitas cinematic dan sangat stabil (tidak goyang-goyang)
+. Mendukung resolusi sampai 4K 30frames (paling kecil HD 1280x720p 24frames)
+. Battery tahan +/- 45-60menit
+. Lensa standard Zenmuse X3 viewing angle-nya cukup lebar
+. Build-in WiFi (2.4GHz/5GHz), bisa langsung diintip hasilnya menggunakan mobile devices (iOS/Android)
+. Perlu sedikit latihan agar dapat menghasilkan efek-efek yang diinginkan (misal seolah-olah gambar diambil dari Jimmy Jeep)
+. Kapasitas penyimpanan menggunakan MicroSD card UHS-1 atau Class10 (ilustrasi penyimpanan video 4K di 16GB up-to 36 menit dan up-to 145menit menggunakan 64GB MicroSD Card)

KEKURANGAN:
-. Suara kipas pendingin akan terekam masuk (harus dihilangkan saat post-pro)
-. Tidak bisa merekam langsung ke Device yang saat itu terhubung
-. Suara yang terekam cukup sayup-sayup, perlu di normalisasi pada tahap post-pro
-. Perpindahan dari mode record biasa ke slow-motion harus menghentikan proses rekaman kemudian mulai kembali
-. Tidak bisa sambil mengambil video kemudian melakukan photo

3 hari pertempuran Samsung Gear S2 vs Pebble Time.

Selamat tahun baru 2016,

Memenuhi janji kami di BBM, silahkan disimak pertempuran akbar antara wearable device terbaru dari Samsung (Gear S2) vs Pebble Time.

Tanggal 23 Desember 2015, akhirnya kiriman sebuah Samsung Gear S2 berwarna hitam datang. Akan tetapi dikarenakan kesibukan akhir tahun, baru tanggal 3 Januari 2016 uji coba mulai dapat kami lakukan.


Pict #1: Bukti masih segel sampai 3 Januari 2016. 🙂

Tentunya pada penasaran isi dalaman kotak Samsung Gear S2 ada apa saja ya?


Pict #2: begitu dibuka langsung terlihat unit Samsung Gear S2.


Pict #3: disebelah bawah ada cradle wireless charger, adaptor MicroUSB 700mAh, buku panduan serta sebuah extra strap berwarna abu-abu.


Pict #4: paket isi Gear S2 yang kami terima.
(Catatan: entah apakah semua Gear S2 dari SEIN memang mendapatkan strap extra atau tidak).


Pict #5: Gear S2 di charge terlebih dahulu sebelum di utak-atik.

Mengikuti petunjuk di buku manual, kami melakukan charging hingga penuh. Menggunakan adaptor pihak ketiga, charging dari 70% menuju 100% membutuhkan waktu +/- 20menit.  Berdasarkan alat pengukuran arus, saat battery sisa 17%, arus yang mengalir dari catu daya ke wireless charging pad Gear S2 adalah sebesar 200mAh saja.


Pict #6: saat 100% lampu indikator di docking berubah menjadi hijau.

O ya, bentuk dockingnya agak unik, karena pada saat didekatkan ke charging pad, unit Gear S2 seperti menempel dengan magnet ke docking station-nya.

Ritual menghubungkan Gear S2 ke handphone, tidak cukup hanya mengandalkan aplikasi Samsung Gear yang terinstall di handphone, ada tambahan langkah penting (yang tidak terdokumentasikan), yaitu pertama-tama anda harus melakukan pairing Bluetooth secara manual antara Gear S2 dengan handphone.  Setelah melakukan hal tersebut, baru aplikasi Samsung Gear dapat terhubung ke Samsung Gear S2.


Pict #7: setelah terhubung otomatis mengunduh update untuk Gear S2.


Pict #8: masih harus menyetujui beberapa hal


Pict #9: akhirnya, dimulai dengan memilih aplikasi mana saja yang notifnya muncul di Samsung Gear S2.


Pict #10: menu utama aplikasi Samsung Gear setelah terhubung

Pict #11: Samsung Gear S2 sedang menyelesaikan update software / Sisa storage di Samsung Gear S2 (4GB – 1.87GB).

Tentunya pada bingung, Storage (penyimpanan), di jam tangan?  Apa tidak salah tulis?  Tentu saja tidak salah tulis,  ruang penyimpanan itu dapat diisi baik dengan berkas musik (lagu), maupun berkas foto.  Sayangnya, foto yang disimpan pada Gear S2 tidak dapat dijadikan background untuk watch-face, kecuali menggunakan aplikasi pihak ketiga (seperti MrTimeMaker.com)

Gear S2 memiliki 512MB RAM dan 4GB ruang penyimpanan.  Pada saat awal, ruang penyimpanan yang telah digunakan sebesar 1.87GB, sisanya dapat diisi sesuka hati, mau foto selfie terbaru ataupun berkas lagu semua boleh.  Dapat kita definisikan agar ada folder tertentu di HP yang secara otomatis sync ke Gear S2, setiap kali kedua alat terkoneksi.

Lalu apa gunanya menyimpan berkas lagu di jam tangan?  Dugaan anda benar, seandainya anda penggemar olah-raga lari, anda dapat memutar lagu langsung dari Gear S2 dan didengarkan lewat bluetooth headphone.  Dengan dukungan waterproofing IP68 pada Gear S2, tentunya anda tidak perlu takut berolah-raga lari dan tiba-tiba turun hujan. 🙂  Simpan ponsel mahal (tapi tidak anti air) kita di tempat yang aman. 😀

image31

Pict #12: Target olah-raga dengan pengukuran detak jantung sepanjang waktu

Detak jantung kita diukur bukan hanya pada saat melakukan olah-raga,  salah satu keunggulan Gear S2, setiap jam secara otomatis detak jantung kita dipantau dan di sync ke S-Health.  Pada akhirnya kita akan memiliki data detak jantung sewaktu-waktu. 🙂

Kesan awal yang di dapatkan saat memegang Gear S2 vs Pebble.

Gear S2:
1. Secara material lebih tebal dan berat
2. Material strap (tali) dari bahan PVC kaki sama seperti keluarga Gear lainnya (biasanya suka pecah – pecah setelah beberapa waktu).

Pebble:
1. Secara keseluruhan lebih terasa ringan
2. Material strap (tali) dari bahan mirip karet lunak.

Software penghitung langkah kaki di Gear S2 lebih “pelit” dibandingkan Pebble “health” maupun “Misfit”.

Waktu pertama kali digunakan (charging ke 1), Gear S2 hanya bertahan sekitar 19jam (dari 100% -> 17%). Pada cycle ke-dua, setelah 25jam masih tersisa 35%. Pada cycle ke-tiga, dari jam 06AM sampai jam 16 sore masih tersisa 80%.

Perpaduan layar SAMOLED, rotating bezel & layar sentuh, membantu kita membaca pesan secara lengkap di Gear S2 serta memudahkan kita dalam membalas pesan.

Contoh mereply pesan BBM di Gear S2 vs Pebble. Di Gear S2 cukup menyentuh tombol reply (balas) kemudian memilih pesan yang diinginkan (2 langkah), sedangkan di Pebble harus menekan-nekan tombol fisik lebih dari 5 langkah untuk mendapatkan hasil yang sama.

image41

Pict #13: pesan BBM @ Gear S2

image51

Pict #14: scroll ke akhir pesan BBM dan langsung tap pada tombol Reply

image61

Pict #15: Pesan BBM di Pebble Time

image71

Pict #16: harus menekan beberapa tombol terlebih dahulu baru bisa sampai ke menu “Reply   >>

image81

Pict #17: Kembali menekan beberapa tombol baru bisa masuk ke menu “Template    >>

image91

Pict #18: (lagi) menekan beberapa tombol lagi baru mengirimkan balasan jawaban yang diinginkan.

Catatan:
Bagi anda yang menggunakan Samsung Gear S2 (baik tipe sport maupun classic), apabila anda tidak mendapatkan opsi yang sama persis dengan uraian kami diatas, coba install aplikasi Android Wear dari Google Playstore.  Aplikasi tersebut asli dari google, untuk memperluas fungsi smartwatch/wearable yang kita miliki.

Setelah menggunakan kedua-nya selama 3 hari sebagai perbandingan.  Kesimpulan yang kami dapatkan adalah:

Samsung Gear S2:

  1. Berguna dalam mengumpulkan data detak jantung sewaktu-waktu kita (selama 24 jam, bahkan saat kita tidur).
  2. Material strap perlu dicarikan alternatif, agar tidak mudah rusak
  3. Watchface dapat diganti langsung dari Gear S2 tanpa harus terhubung ke aplikasi Samsung Gear di handphone
  4. Ada ditemukan beberapa ketidaksesuaian UI, dimana seharusnya bisa melakukan pilihan dengan cara mengeser layar ke arah atas-bawah atau kiri-kanan, contoh: pada saat ingin setting watchface, ternyata fungsi geser layar ke arah atas-bawah harus menggunakan rotating bezel.
  5. Battery hanya tahan sekitar 1-2 harian (sebaiknya di charge setiap hari)
  6. Dapat digunakan sebagai standalone device untuk menelusuri RSS berita seperti Flipboard, dan ada watchface yang terhubung langsung ke CNN ataupun Bloomberg (bisa memasang stock watcher).
  7. Pada saat tidak terhubung ke handphone (melalui bluetooth), dapat terhubung langsung ke Internet via WiFi
  8. Layar SAMOLED lebih nyaman untuk dibaca, berwarna serta dapat menampilkan pesan panjang secara utuh
  9. Watch-face tidak selalu menyala seperti Pebble dengan e-Ink
  10. Dapat merekam voice memo dan hasilnya nanti ditransfer secara otomatis ke handphone menggunakan koneksi WiFi.
  11. Bobot jam secara keseluruhan lebih berat dibandingkan Pebble
  12. Tidak dapat melakukan tracking waktu tidur seperti GearFit
  13. Dapat membantu kita untuk lebih aktif, karena dapat diset untuk mengingatkan kita saat tidak beraktifitas selang beberapa waktu (misal setiap 1 jam sekali)
  14. Tersedia banyak watch-face, dan dapat juga menggunakan watch-face pihak ketiga (contoh: MrTimeMaker.com)
  15. Software penghitung langkah lebih akurat dibandingkan Pebble Health atau Misfit
  16. Bentuk-nya seperti jam biasa pada umum-nya (bulat) membuat kita lebih percaya diri (seperti menggunakan jam biasa)
  17. Getaran-nya (vibration) sangat halus, walaupun sudah di set ke yang paling keras, tetap lembut, sehingga kadang tidak terasa

 

Pebble Time:

  1. Dapat dihubungkan ke 2 perangkat (iOS & Android) secara bersamaan.  Fungsi Pebble di iOS hanya untuk menerima notifikasi, kontrol & kustomisasi Pebble dilakukan semua dari Android.
  2. Battery lebih tahan lama, dalam 1x charge cycle bisa tahan sekitar 3 harian baru minta di re-charge.
  3. Untuk membalas pesan, perlu effort yang lebih, karena harus menekan beberapa tombol fisik berulang kali.
  4. Secara umum bobot jam lebih ringan, tidak berasa menggunakan jam tangan
  5. Softwate Pebble Health / Misfit kurang akurat dalam menghitung langkah kaki
  6. Watch-Face selalu dalam kondisi hidup, terbaca baik di bawah matahari maupun tempat gelap (ada backlight)
  7. Tombol-tombol fisik agak keras
  8. Hanya dapat terhubung ke handphone lewat Bluetooth

Jadi kesimpulannya beli yang mana?

Bagi yang ingin memiliki smart-watch yang sekaligus bisa digunakan menyimpan berkas lagu yang bisa didengarkan lewat bluetooth headset, silahkan melirik Samsung Gear S2.

Sedangkan bagi yang memiliki lebih dari 1 perangkat, terlebih lagi apabila iOS & Android), dan ingin mendapatkan notifikasi dari kedua perangkat tersebut dalam 1 alat, silahkan melirik Pebble family.

Dan bagi yang tidak tahu menginginkan yang mana, sebaiknya membeli kedua-nya agar dapat digunakan secara bergantian maupun digunakan secara bersamaan seperti kami, masing-masing tangan 1 buah. :p

Bagi yang memiliki pendapat lainnya, silahkan dituliskan pada bagian komen dibawah ini 🙂

2016

Mirroring layar iDevice ke PC (Macintosh/Windows).

Hi,

Ingat dengan pertanyaan sebelumnya, bagaimana caranya mirroring screen iDevice (iPhone/iPad) ke PC (Macintosh / Windows)? Jawabannya adalah menggunakan aplikasi tambahan bernama X-Mirage (link).

Err. maaf, bukankah, iDevice bisa langsung menampilkan gambar (dan suara) ke HDTV? Hem.. betul, akan tetapi jangan dilupakan, bahwa fungsi tersebut, terbatas pada beberapa apps yang memang secara bawaan (native) memiliki fungsi tersebut, contoh media player iOS. Untuk aplikasi lain, entah membutuhkan root access (bahasa kerennya Jailbreak iOS).

Program X-Mirage ini, diinstall pada Komputer (Desktop / Laptop), dan otomatis, dapat difungsikan untuk mirroring iPad/iPhone beserta suaranya. Tertarik mengetahui lebih lanjut?

Pertama-tama, silahkan download dan install trial 15 days dari www.x-mirage.com

Ada dua pilihan, apakah ingin menginstall versi Mac, atau ingin versi Windowsnya.

Pict #1: Download page www.x-mirage.com

Selesai mendownload, install aplikasi ini, jangan khawatir, aplikasi ini berfungsi sebagai trial 7 hari.

Di Macintosh, klik 2x pada file yang telah di-download tadi, kemudian geret icon x-mirage dari kiri menuju folder aplikasi.

Pict #2: Install x-mirage ke application folder.

Otomatis x-mirage telah terinstall pada PC anda.

Pict #3: Icon X-Mirage telah duduk manis bersama apps lainnya di folder aplikasi

Sebagai langkah antisipasi program jahat, pada saat kita menjalankan program yang baru di download dari Internet untuk pertama kalinya, maka

Pict #4: klik Open.

Apabila anda mendapatkan pesan yang berbeda, kemungkinan, settings agar memperbolehkan instalasi program diluar Apple Store belum diaktifkan (belum diijinkan). Ikuti petunjuk berikut ini untuk mengaktifkannya:

Tekan logo Apple pada bagian atas paling kiri layar. Kemudian pilih System Preferences…

Pict #5: System Preferences

Kemudian, pilih Security dan Privacy

Pict #6: tekan Security & Privacy

Pict #7: klik icon gembok, sebelum bisa merubah pilihan.

Setelah gembok dibuka menggunakan password admin anda, maka screen berikut ini yang akan anda temui.

Pict #8: Default ssecurity ettings di OSX.

Agar anda dapat menginstall serta menggunakan aplikasi selain yang ibeli dari Apple AppStore, pindahkan radio button dari” Mac App Store dan Identified Developers” ke “Anywhere”

Kembail muncul pop-up, kali ini anda tekan “Allow From Anywhere”

Pict #9: Allow from anywhere.

Setelah selesai, tutup kembali jendela System Preferences, dan coba jalankan kembali aplikasi X-Mirage.

Seharusnya anda mendapatkan jendela berikut ini:

Pict #10: Saat pertama kali program X-Mirage dijalankan (belum memasukkan registration key).

Apabila anda telah memiliki kunci pengaktifan, silahkan memilih EnterKey, atau bisa juga langsung membeli dengan mengklik tombol BuyNow, untuk coba-coba terlebih dahulu, tekan tombol Continue.

Cara memulai screen mirroring dari iPad/iPhone ke PC sangat mudah, langkah ini dijelaskan dengan 4 buah gambar berikut ini:

Pict #11: Langkah 1 di iPhone/iPad, swipe ke atas dari bagian bawah layar

Pict #12: Klik pada tombol AirPlay

Pict #13: Pilih nama komputer dimana kita ingin mirroring layar iDevice kita.

Pict #14: geser tombol Mirroring ke posisi ON. Itu saja.

Selanjutnya mungkin anda ingin mengutik-utik bagian setting, karena tergantung dari perangkat WiFi router yang anda miliki, mungkin kualitas gambar & suara perlu diturunkan agar hasilnya maksimal.

Secara default, yang terpilih adalah: tampilan dioptimalkan untuk resolusi 1920×1080 Full HD.

Pict #15: Konfigurasi standard.

Oh ya, ada baiknya Airplay Name: dirubah sesuai dengan nama yang anda inginkan, gunakanya, apabila di kantor anda memiliki beberapa komputer yang terinstall X-Mirage, dengan nama yang sama, akan membingungkan mencari PC yang tepat untuk mirroring iDevices kita.

Sekiranya putus-putus, maka bisa dipilih resolusi lainnya, sampai gambar + suara memberikan hasil yang maksimal bagi anda.

Pict #16: Resolusi lain yang didukung oleh X-Mirage

Selesai proses instalasi di OSX, sekarang saatnya test-drive langsung dari perangkat iOS (iPhone/iPad).

Pict #17: Buka Control Center (slide dari bagian paling bawah layar ke atas).

Pilih AirPlay
Kemudian pilih nama PC yang telah kita set tadi.

Pict #18: Pada contoh ini, PC test bernama X-M [JG]

Begitu dipilih, dan button mirroring diaktifkan, viola… screen iDevice langsung muncul di PC.

Pict #19: Screen iPhone langsung muncul di Macbook (Mavericks)

Pict #20: Apa-pun yang kita lakukan pada perangkat iOS otomatis ditampilkan pada layar PC.

Oh ya, untuk melakukan hal ini, pastikan perangkat anda telah menghubungkan perangkat iOS & PC ke dalam jaringan WiFi yang sama.

Pict #21: Status Control Center juga menunjukkan status koneksi, ditandai highlight pada icon Airplay.

Pict #22: Mirroring aplikasi Safari di iPhone ke OSX.

Yang sangat saya senangi disini, ternyata, apa-pun yang ditampilkan pada layar PC dapat kita rekam, hal ini bagus apabila kita ingin membuat video presentasi cara menggunakan suatu aplikasi maupun video pelatihan lainnya. Hasil videonya dapat di export menjadi movie biasa.

Pict #23: Untuk merekam, cukup menekan tombol (*) merah yang otomatis muncul pada jendela di PC.

Kesimpulan 1:
Secara umum, pada test bagian pertama ini, kami sangat senang menggunakan program X-Mirage, karena kondisi perangkat yang kami gunakan pada saat testing:

#1. WiFi router TP-Link MR-3420
#2. Sebuah iPhone
#3. Sebuah Macbook Pro core-i5 mid-2010

Pada saat yang sama, beberapa perangkat rakus bandwidth juga sedang terhubung ke router yang sama (iPad1, Blackberry OS BB10, Android phones, Galaxy Note8), tapi mengejutkan, lagging yang timbul pada saat melakukan mirroring dari iPhone ke OSX via WiFi MR-3420 boleh dibilang sangat rendah.

Berikut ini, iseng mirroring tampilan camera dari iPhone ke PC, sehingga menimbulkan efek sebagai berikut.

Pict #24: Hasil camera iPhone yang melakukan screen mirroring ke PC (Macbook).

Bagi anda yang mencari solusi untuk membuat video pelatihan menggunakan apps baik di iPhone / iPad, dapat mempertimbangkan untuk menggunakan software X-Mirage ini.

Pada test berikutnya akan kami coba, bagaimana kinerjanya apabila digunakan untuk streaming video + suara dari iDevice.

 

 

Sampai jumpa pada test berikutnya.

Salam SUKSES LUAR BIASA,

– B2B –

Rahasia mengganti HDD menjadi SSD di Mac?

Pagi semua,

Akhirnya kembali ingin menulis mengenai Mac. Mungkin saat ini, HDD komputer/laptop anda sedang dirasakan pelan sekali.. biasanya memang karena dah mau rusak (salah satu tanda HDD failure adalah akses jadi lambat). 😀

Kali ini saya akan membagikan rahasia mengganti HDD Mac anda menjadi SSD, tentunya performa Mac anda akan meningkat dengan pesat.

Tentunya system yang mumpuni akan lebih joss kalau didukung perangkat yang luar biasa. Salah satu komponen pada Mac komputer yang bisa di-upgrade adalah HDD. Alasan untuk upgrade ke SSD biasanya karena akses baca tulis di SSD lebih gegas (ya iya lah, tidak menggunakan piringan & jarum), dan penghematan penggunaan daya (membutuhkan daya lebih kecil dibandingkan HDD).

Langkah pertama-tama, tentunya anda harus membeli sebuah SSD (kan mau dipasang), kapasitas boleh 120GB (atau 240GB sekiranya ada dana lebih), intinya disesuaikan dengan kebutuhan. Yang sebaiknya dimiliki juga (bagi Macbook generasi sebelum retina display; maupun iMac) adalah sebuah 2nd HDD caddy. Bentuknya seperti berikut ini:

Gunanya, mengganti optical drive (SuperDrive Macbook anda menjadi rumah bagi HDD kedua).

Sedikit latar belakang, mengapa saya menyarankan menggunakan SSD berkapasitas kecil, dibandingkan SSD langsung besar (diatas 240GB), adalah:
1. SSD menggunakan NAND flash, dimana kemampuan menyimpan serta menyalurkan electron (bit 0 / 1) terbatas usia pakainya. Hal ini dikenal sebagai IOPS. Makin tinggi IOPS makin bagus kemampuan membaca/menulis elektron yang dimiliki sebelum masa pakai habis.
2. Untuk menekan biaya produksi, teknologi SSD saat ini mengunakan metode layering, dalam 1 cell ada beberapa layer untuk menyimpan data (bit) yang berbeda. Makin besar artinya makin rentan cepat habis (dengan kata lain, cepat minta ganti baru). 😀
3. SSD sebelum rusak tidak ada tanda-tanda akan rusak seperti HDD conventional yang menjadi lambat. Bagi SSD kalau mau rusak, langsung tiba-tiba rusak (mati total). Dengan kapasitas besar, backupnya juga makin repot. 😀
4. Makin besar kapasitasnya, SSD yang baik IOPS (Input/Output per-second) tetap tinggi.  Jadi SSD jaman dulu, sequential read/write tinggi, tetapi begitu random read/write, speed langsung turun drastis, bahkan kadang performance drop tidak menentu.

Oleh karena sebab-sebab diatas, banyak pandangan yang menyampaikan sayang SSD digunakan untuk menampung data yang perlu diakses setiap saat. Biasanya SSD hanya digunakan sebagai system drive (booting, buka aplikasi, dan lain-lain), sedangkan data tetap ditempatkan pada HDD conventional (selain harga HDD biasa juga lebih ekonomis).

Untuk sebuah system Mac, OSX + apps yang diperlukan + sedikit ruang untuk scratch disc, kapasitas 120GB sudah mencukupi. Data diletakkan pada HDD conventional.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana caranya saya memindahkan isi HDD saat ini ke SSD bukan? 🙂

Prosedur pemindahan data:

Skenario A:

kapasitas SSD => kapasitas HDD saat ini (atau kapasitas SSD > isi HDD saat ini)
‎Dapat menggunakan aplikasi bernama carbon copy cloner (link: disini), perinsip kerjanya seperti Norton Ghost / Acronis Backup (di Windows). Selama jumlah data di HDD lebih kecil dari kapasitas SSD, cara ini dapat dilakukan.

‎SSD bisa langsung menggantikan HDD conventional, atau menggunakan caddy agar HDD conventional tetap dapat digunakan untuk menyimpan data, dan SSD digunakan untuk booting & apps.

Skenario B:

system OSX & apps diinstall ulang, data restore.
Cara ini sangat disarankan oleh para senior, agar system bekerja sempurna (system jadi bersih dari setting yang tidak perlu).
Pertama-tama, backup dulu data dari system saat ini menggunakan time machine (semua HDD berpartisi format HSF+ dapat digunakan untuk keperluan ini)‎.
‎Setelah selesai dibackup ke time machine, pasang SSD dan lakukan instalasi OSX + apps yang diinginkan, setelah selesai restore data menggunakan time machine backup.

Skenario C:

system OSX & apps diinstall ulang, data di HDD conventional.
Pasang SSD ke system, untuk Macbook harus melepaskan Optical Drive (SuperDrive). Setelahnya, lakukan instalasi system OSX + apps.
Selesai instalasi dan proses kustomisasi standar pemakaian anda, arahkan home folder, iTunes Library, iMovie + iPhoto Library ke HDD conventional yang juga ada di system.

‎Tada! 😀 System utama OSX ada di SSD, sedangkan data di HDD conventional.

Semoga bermanfaat, apabila ada yang kurang jelas, silahkan bergabung di mailing list id-MAC (kirimkan e-mail kosong ke id-mac-subscribe)

Sampai berjumpa lagi. 🙂 Selamat menikmati kecepatan SSD…

 

Salam SUKSES LUAR BIASA,

– B2B –

Beberapa hal “kecil” berpengaruh di fitbit.

Setelah gembira mendapatkan pinjaman fitbit force dari seorang kawan baik, ada beberapa hal yang saya temukan.

Cara setting fitbit force (serta fitbit lainnya), harus mengkoneksikan ke device (boleh iOS; boleh Android). Khusus fitbit force, setup termasuk menyesuaikan jam.
Pertama saya pikir, setelah setup lewat aplikasi (menghubungkan tracker) ke account kita, pekerjaan telah selesai, ternyata setelah itu ditemukan :

1. Perhitungan jarak tempuh tidak akurat.

2. Bagaimana cara mengaktifkan mode aktivitas (serta apa itu aktivitas).

Cari punya cari, serta komunikasi dengan fitbit support, ternyata kita harus setting profile data diri dari website fitbit (di app iOS & Android tidak ada setting dimaksud).
Pertama login lah dari http://www.fitbit.com
Kemudian click pada gambar roda dibagian kanan atas, serta pilih settings.

Seperti gambar terlampir, nilai awal dari jarak langkah kaki (1) & jarak langkah kaki pada saat berlari (2) di masukkan 0, artinya fitbit akan menggunakan informasi umum berdasarkan jenis kelamin (a), umur (b), tinggi badan (c) serta berat tubuh (d) sebagai acuan menghitung jarak tempuh dan pembakaran kalori.

Untuk mendapatkan hasil yang akurat, pihak fitbit menyarankan mengukur jumlah langkah kaki yang dibutuhkan menempuh jarak yang telah diketahui secara pasti. Harap diperhatikan, jumlah langkah yang dibutuhkan minimal 20 langkah.

Misalkan anda mempunyai lintasan 100m, silahkan dihitung, berapa langkah yang anda perlukan untuk melewatinya. 100/jumlah langkah = jarak langkah kaki anda. Hal yang sama juga berlaku untuk menghitung jarak langkah pada waktu anda berlari.

Setelah mengetahui jarak langkah anda, masukkan pada field no 1 & 2. Nah, mudah-mudahan, fitbit akan menunjukkan jarak mendekati aslinya. 🙂

Oh ya, untuk mengaktifkan activity mode, tekan & tahan tombol power sampai menunjukkan stopwatch. Setelah selesai beraktifitas tekan kembali tombol power di fitbit force untuk keluar dari mode aktivitas. Selanjutnya, aktifitas tersebut dapat di edit pada website fitbit.com

Untuk yang berada di Indonesia atau ingin saling mendukung hidup sehat, silahkan bergabung di fitbit yuk…

Sampai ketemu di fitbit.

Serbuan pasukan DRAFT di mail.app Mavericks.

Teman-teman,

Setelah beberapa waktu menggunakan OSX terbaru yang diberikan oleh Apple secara gratis (aka Mavericks), apakah anda menemukan bahwa tiba-tiba menulis sebuah e-mail dalam waktu ± 5 menit bisa menghasilkan draft e-mail dalam jumlah sampai puluhan?

Sebalnya lagi, draft ini tidak bisa hilang dengan sendirinya, jadi harus kita hapus (discard) satu-per-satu secara manual. Ternyata hal ini disebabkan oleh settingan Gmail yang berubah. Sudah mencoba merevisi setting di mail.app Mavericks akan tetapi dalam beberapa waktu, setting kembali menjadi enable dengan sendirinya?

Sebenarnya cara mengendalikannya sangat mudah, ikuti petunjuk praktis dibawah ini, semoga serbuan draft ke mailbox anda juga turut lenyap (selamanya).

#1. coba login ke website gmail (www.gmail.com) menggunakan account yang akan diperbaiki.

#2. klik icon roda (settings) pada bagian kanan atas, dibawah nama account.

#3. Kemudian pilih Settings

#4. Selanjutnya pilih Labels
(Contoh settings yang belum direvisi)
Current configuration

#5. Pada bagian Draft & Spam, rubah dari show (atau hide) menjadi: show if unread
(contoh yang telah diperbaiki)
Corrected entries:

Langkah yang dibutuhkan di gmail telah selesai, anda bisa logout dan sekarang saatnya memperbaiki settingan di mail.app Mavericks.

#6. Sekarang masuk ke mail preferences di mail.app pada Mavericks.
Pada account gmail yang tadi telah diperbaiki, hapus (atau buang) tanda centang di depan: store draft messages on the server
Catatan: pada contoh dibawah ini, saya belum membuang tanda centang di depan draft & junk.

#7. Simpan perubahan yang telah dibuat.

#8. test account anda dengan cara membuat e-mail baru. Seharusnya sekarang anda sudah tidak mendapatkan serbuan pasukan draft e-mail. 😀

Selamat menikmati mail.app Mavericks yang telah disempurnakan.

PS:
Beberapa hari yang lalu, Apple.inc telah mengeluarkan combo update 10.9.1 termasuk di dalamnya perbaikan untuk mail.app. Apabila anda telah menggunakan Mavericks, segera lakukan update agar kemampuannya makin maksimal.

Salam SUKSES LUAR BIASA,

– BanyakGaul –

%d bloggers like this: