Battle of Cast Dongles! (Samsung AllShare cast vs Google Chromecast 2 vs Ezcast 5G)

Hi B2B-ers,

Pa kabar semua?

Setelah tergelitik membaca sharing dari seorang sesepuh per-gadget-an Indonesia (Lucky Sebastian aka @Gadtorade), jadi gatal ingin menulis lagi, dan kebetulan baru sempat juga sih… 🙂

Menurut kang Lucky, yang perlu dicari adalah penyampaian sebuah sudut yang biasanya terlewatkan oleh reviewer lain. 🙂 Nah kali ini, karena (kebetulan) anak saya sendiri berkomentar, kok dongle cast sampai berbuah-buah dan macam-macam, memangnya bedanya apa sih? Nah di mulai lah tulisan ini…

Pertanyaan mendasar..

1. Apa fungsi dasar sebuah dongle cast?
Kegunaan penting sebuah Dongle Cast adalah menampilkan isi layar (berikut audio/suara) handphone/tablet ke layar besar (misal TV atau LCD Projector). Se-enak-enaknya nonton film di layar handphone terbaru, tentunya lebih nikmat bila ditonton di layar bioskop bukan? 😀

2. Jenis koneksi dari dongle cast ke handphone?
Tujuannya adalah menampilkan layar serta suara dari handphone ke layar besar secara nir-kabel.. jadi tidak ada kabel berseliweran di antara handphone kita dengan layar/TV. Enak toh? 🙂

Kebetulan saya memiliki 3 buah dongle cast, mulai dari Samsung AllShare cast, Google Chromecast 2 dan Ezcast 5G. Penasaran mau tahu keunggulan dan kekurangan dari masing-masing dongle cast tersebut? Yuk, mari lanjut dibaca…

Yang akan dibahas di mulai dari Samsung AllShare Cast dongle (paling tua), baru Google Chromecast 2 dan Ezcast 5G ya.

A. SAMSUNG AllShare Cast Dongle

Awal-nya menggunakan device Samsung, kebetulan sudah bisa melakukan presentasi menggunakan PowerPoint mobile. Terbayangkan betapa nikmatnya apabila bisa melakukan presentasi tanpa harus berdiri disamping LCD projector, atau kalau kebetulan hanya membawa handphone dan tidak membawa laptop, bagaimana caranya bisa presentasi ke sekelompok orang yang lebih besar? Sering juga setelah anak mengikuti kegiatan di sekolah, orang tua ingin melihat cucu-nya, dan selama ini kesulitan, karena harus memindahkan dulu file dari dalam handphone agar dapat diputar di TV.

Saat ada kesempatan, segeralah di pinang sebuah Samsung AllShare Cast Dongle..Awal dikeluarkan, harganya cukup indah menguras kantong (> IDR 800.000), apa sih isi paket AllShare Cast?

Sebuah dongle AllShare Cast, sebuah cable MicroUSB – USB, sebuah adaptor 5V 1A dan sebuah kabel HDMI untuk mengkoneksikan ke layar/TV.

Keunggulan yang di dapatkan dalam menggunakan AllShare Cast:

1. Pairing antara dongle dengan perangkat sangat mudah. Cukup menekan tombol di belakang AllShare Cast Dongle (sekitar 1 detik hingga warna led berubah-ubah biru & merah), kemudian kita cari dari perangkat yang ingin dihubungkan.

2. Selain perangkat Samsung, AllShare Cast juga mendukung protokol MiraCast, jadi bisa melakukan mirroring menggunakan perangkat Blackberry maupun Intel Wireless Display.

3. Direct koneksi via WiFi antara perangkat dengan dongle, tanpa memerlukan router.

4. Sudah mendukung resolusi 1920 x 1080 (FullHD)

Kekurangannya:

1. Perangkat Apple belum dapat terhubung ke dongle ini

2. Karena koneksinya masih 802.11n, saat kita di-area interference tinggi kadang suka putus-putus. Wajar, karena teknologi 802.11n sudah lumayan “lama” tapi pada masa-nya merupakan yang terbaik.

3. Saat mirroring, kita tidak dapat menggunakan perangkat kita untuk hal lain.

4. Apabila perangkat kita tidak mendukung dual-band WiFi, maka otomatis tidak dapat terhubung ke internet saat kita terhubung ke AllShare Cast Dongle.

B. Google Chromecast 2

Setelah menemukan AllShare Cast suka putus-putus, serta belum mendukung perangkat Apple (AirPlay), maka pencarian menemukan perangkat dilanjutkan.

Kebetulan (lagi), menemukan penawaran asik dari salah satu toko online. Dan tersedia warna yang tidak pasaran, yaitu merah (penting banget ya?) Maksudnya apabila digunakan saat event, tidak akan ada yang menyamai, karena biasanya orang memiliki Chromecast berwarna hitam. 😀 Oh ya, yang terbaru adalah Google Chromecast 4K, akan tetapi karena perangkat 4K masih mahal dan jarang serta harganya masih mahal, jadi diputuskan untuk meminang Google Chromecast 2 saja.

 

Dalam bagian dalam cover Google Chromecast, tersedia petunjuk cara memulai mensetting / menggunakan Chromecast ini.

 

Keunggulan:

1. tidak memerlukan kabel HDMI terpisah, karena kabelnya sudah menempel jadi 1 dengandongle.

2. Cara kerja perangkat – router – google Chromecast 2; untuk setup awal, memerlukan aplikasi Google Home (tersedia baik di Android Playstore maupun iTunes Store).

3. dapat di kustom menggunakan wallpaper photo-photo yang telah kita upload di account Google Photos.

4. Saat kita men-cast suatu tayangan misal youtobe, maka layar handphone bisa dimatikan dan film tetap tambil dilayar, karena Chromecast yang langsung terkoneksi ke-internet via router.

5. Setiap awal dihidupkan, otomatis mengupdate firmware terbaru (apabila ada).

6. Karena koneksi via router, kekuatan router menjadi penentu apakah presentasi lancar / putus-putus.

7. Dapat menampilkan isi layar dari iOS/Android, PC Windows maupun Mac.

8. Menggunakan standard WiFi 802.11ac

Kekurangan:

1. Dalam bekerja memerlukan koneksi ke router yang terhubung ke internet. Tidak bisa bekerja tanpa router & koneksi internet.

2. Bentuknya masih tidak agak gemuk dan dilengkapi dengan magnet yang cukup kuat, khawatir merusak data di flashdisk dan lain-lain apabila diletakan dalam tas.

3. Audio tidak dapat di pilih agar dikeluarkan dari perangkat, semua otomatis di keluarkan via HDMI (video & audio).

4. Memerlukan google account untuk mensetup dan menggunakan Chromecast.

5. Mirroring dari laptop, hanya dapat dilakukan via Google Chrome, jadi kita perlu menginstall Google Chrome sebagai peramban di laptop tersebut.

C. EZCAST 5G

Dikarenakan kekurangan google ChromeCast no 3 & 4 diatas, akhirnya saya kembali mencari dongle yang dapat menampilkan isi layar iOS/Android maupun PC Windows & Mac. Awal-awalnya banyak barang palsu bertebaran di online market maupun offline. Sampai suatu ketika menemukan yang sama persis seperti yang tercantum di website resmi Ezcast (iezvu.com). Hampir membeli produk yang salah, karena gambar yang ditambilkan memang Ezcast 5G, akan tetapi deskripsi berbeda dengan iezvu, kemudian setelah berdiskusi akhirnya diputuskan untuk membatalkan pesanan dan mencari seller lainnya.

Jreng… original EZcast 5G ditemukan dan dipesan… saat pesanan sampai, langsung saya cek…

 

Bagian bawah kardus memiliki informasi sebagai berikut:

Isi dari paket penjualannya:

Khusus untuk Ezcast 5G, pastikan pada perangkat WiFi adapter terlampir, tertera tulisan dual-band (2.4GHz / 5GHz). Frekuensi 5GHz, biasanya masih jarang interferensi serta memiliki bandwidth yang besar, sehingga presentasi anda tidak putus-putus.

Keunggulan:

1. Koneksi ke EZcast di awal menggunakan aplikasi yang dapat di download pada Playstore maupun iTunesStore. Selebihnya bisa langsung mengakses informasi yang tertera di layar.

2. Mendukung koneksi dari iOS / Android maupun PC Windows & Mac.

3. WiFi sudah dual-band seperti Google Chromecast 2.

4. Standard WiFi terkini 802.11ac

5. Cara menghubungkan ke dongle bisa dipilih salah satu direct link antara perangkat ke dongle tanpa melalui router atau melakukan hubungan via router.

6. Saat perangkat terhubung ke dongle tetap bisa mengakses internet.

7. Lebih ringan dbandingkan Google Chromecast 2.

Kekurangan:

1. dalam paket penjualan tidak disertakan power adaptor

2. banyak palsu-nya, harus hati-hati dalam memilih.

Kira-kira demikian review part 1 ya.. apakah ada yang tertarik melihat vlog masing-masing device in action? Coba tinggalan komen dibawah, agar saya tahu yang ingin diketahui kawan-kawan apa sih? 🙂 Semoga bisa jadi vlog-nya ya.

Sementara sekian, sampai ketemu lagi di blog maupun VLOG….

Advertisements

Mau melakukan presentasi secara WOW menggunakan Blackberry Handset (Blackberry OS 10)?

Selamat siang B2B-ers,

Apa kabar anda hari ini? Setelah libur Lebaran usai, sekarang saatnya mencari sesuap nasi kembali untuk Lebaran Haji yang akan tiba sebentar lagi. 😀

Oh ya, siapa diantara kita yang sering harus melakukan presentasi depan umum? Pastinya kebayang ribetnya, musti bawa laptop, LCD Projector, belum segambreng perlengkapannya (kabel), duh… ada cara lebih mudah dalam melakukan presentasi? Jawabannya ADA tuh… kebetulan baru kelinci percobaan berupa satu buah AllShare Cast dongle milik Samsung.

Pict #1: Isi paket AllShare Cast dongle Samsung.

Berhubung baru pertama kali cobain alat tersebut, keinginan pertamanya banyak banget… dari ingin melakukan presentasi secara wireless baik dari device Samsung maupun device lain yang mendukung Miracast. Sudah pada penasaran? Mau tahu, tahu banget atau cuma mau tahu? *ha ha ha ha* 😀

Merujuk kepada judul tulisan ini, presentasi yang WOW itu menurut kami bisa dikategorikan dalam beberapa hal, yakni:
1. Materi presentasinya luar biasa
2. Cara membawakan presentasinya (presenternya) keren
3. Alat – alat pendukung presentasinya membuat berdecak kagum.

Ok, berdasarkan expektasi yang disampaikan diatas, tidak sabar rasanya untuk segera mencoba performance AllShare Cast dongle. Asumsikan saja, materi presentasi & presenternya sudah luar biasa.. mari kita lengkapi faktor WOW-nya dengan melakukan presentasi secara nirkabel. 🙂

Begitu kami ada waktu luang, segera dihubungkan 1 buah dongle ke travel adaptor (micro USB), kemudian kabel HDMI v1.3 ke TV/LCD Projector yang memiliki port HDMI, serta tidak lupa untuk membaca buku petunjuknya (berupa booklet kecil, beberapa halaman saja).

Mengikuti buku petunjuk tersebut, ternyata tidak bisa terhubung, jangan bilang device lain, bahkan device Samsung pun tidak bisa terhubung. Muncul error message seperti berikut;

Pict #2: Gagal koneksi dari GNote 8 ke AllShare Cast dongle error message.

Saran kami? Buang saja buku petunjuk penggunaan AllShare Cast dongle yang tidak berguna itu. :p

Harap maklum, karena baru pertama kali mencoba mainan ini, jadinya sempat kebingungan cukup lama juga. Mencari informasi di Internet bahkan di forum-forum seperti xda-developer juga tidak membantu. Berhubung alat saya juga pinjaman dari seorang kawan baik, yang kebetulan hanya berisi dongle tanpa aksesorisnya, sempat kebingungan, apakah si dongle rusak? atau ada kendala di Software, dan lain-lain.

Lewat tulisan ini, kami ingin membagikan 2 hal, yaitu:
1. cara mengkoneksikan perangkat baru ke AllShare Cast secara baik dan benar
2. cara melakukan mirroring tampilan dari perangkat BB10 ke AllShare Cast.

Mari kita bahas yang pertama, cara melakukan koneksi (pairing) dengan perangkat baru untuk pertama kalinya. Oh ya, AllShare Cast dongle ini hanya dapat terkoneksi (paired) ke 1 perangkat saja ya.

Langkah-langkah yang diperlukan:
A. Koneksikan kabel adaptor ke dongle (jangan di power ON terlebih dahulu)

B. Koneksikan kabel HDMI ke TV/LCD Projector (untuk kabel HDMI v1.3 ke atas, suara juga akan keluar di TV/LCD Projector; dengan beberapa pengecualian).

C.Sekarang di power on dongle-nya tunggu sampai di TV/LCD Projector muncul gambar berikut ini:

Pict #3: Tampilan petunjuk penggunaan di layar TV/LCD Projector saat idle (sebelum dongle terhubung ke handset)

D. Siapkan perangkat yang akan dihubungkan, kemudian tekan tombol reset selamat 1 (satu) detik saja. Apabila anda melakukannya dengan benar, maka lampu indikator di dongle akan berubah menjadi warna BIRU stabil (tidak berkedip-kedip).

Pict #4: AllShare Cast dongle siap menerima koneksi (Image Source: Engadget)

E. Dongle siap untuk menerima koneksi dari perangkat mobile.

Baik, sekarang saatnya kita bahas cara menghubungkan perangkat Blackberry (BB10) dengan AllShare Cast dongle tersebut. Handset BB yang akan digunakan adalah Blackberry Z3 (tentunya anda bebas menggunakan Handset BB10 / android lainnya).

1. Pada handset blackberry (BB10) yang ingin digunakan, pastikan OS yang terinstall sudah minimal versi 10.2.x.x ke atas (yang sudah bisa menginstall aplikasi Android secara native).

2. Masuk ke Settings -> pastikan WiFi dalam keadaan OFF. Apabila belum OFF, silahkan matikan koneksi WiFi.

3. Kemudian buka menu (Settings ->) Display (set wallpaper, font sizes and brightness)- kemudian scroll kebawah seperti gambar berikut ini:

Pict #5: tampilan menu Settings – Display

4. tekan pada menu “Share Screen”

5. Pada layar yang terbuka nanti, tekan pada nama Dongle yang muncul (pada contoh ini tertera: [DONGLE]BCE149)

6. Apabila koneksi berhasil, maka tampilan yang akan anda temukan adalah seperti ini:

Pict #6: Tampilan menu Settings – Display setelah berhasil terkoneksi

SELAMAT! Pada saat ini, coba anda lihat ke layar TV/LCD Projector anda, seharusnya disana telah tampil isi layar Blackberry anda. 🙂

Pict #7: Tampilan Z3 telah mirroring ke TV

Pict #8: Masih pada posisi Potrait

Pict #9: Posisi Potrait dengan 3 aktif windows di Blackberry Z3.

Pict #10: Orientasi yang ditampilkan pada TV mengikuti orientasi HH Z3 (potrait / landscape).

Proses menghubungkan perangkat Blackberry BB10 ke AllShare Cast dongle telah selesai. Silahkan menikmati isi ponsel anda di layar besar. 😀 Lumayan bisa membuat lawan bicara kita terpana dengan alat – alat kecil yang kita miliki, tapi sangat membantu sekali baik dari sisi setup maupun lain-lain. Jangan tertipu gambar, bentuk alatnya sangat mungil dan ringan sekali. 🙂 Koneksi kami perkirakan menggunakan WiFi Ad-Hoc (langsung antar perangkat), oleh karena itu di Blackberry Z3, koneksi WiFi-nya harus dimatikan baru bisa bekerja, sedangkan di GNote 8 yang sudah dual-band (2.4GHz & 5GHz), tetap bisa terhubung ke WiFi network seraya terkoneksi ke AllShare Cast dongle.

Oh ya, untuk perangkat Samsung, cukup mengaktifkan “screen mirroring” dan pilih donglenya, maka akan langsung terhubung (selama posisi lampu indikator dongle berwarna biru).

Menurut hasil pengetest-an kami, video/music/game yang diputar baik di Blackberry Z3 maupun Gnote8, suaranya keluar dari TV, akan tetapi, program untuk program Skype, suara tetap muncul dari Handset kita.

Silahkan apabila rekan-rekan memiliki pertanyaan, untuk menuliskannya pada bagian comment dibawah ini. Mudah-mudahan bisa dibantu. Sampai jumpa lagi.

 

Salam SUKSES LUAR BIASA,

– B2B –

zZz (Z3) dari Jakarta untuk Jakarta, jadi bagian dari kami.

Selamat pagi Indonesia, lebih tepatnya, selamat pagi Jakarta!

Hari ini adalah hari yang istimewa untuk dirimu, kenapa istimewa? Baru kali ini, Jakarta, Indonesia menjadi kode sebuah produk telepon pintar. Ya, hari ini adalah hari peluncuran (launching) smartphone Blackberry terbaru dengan kode Jakarta alias Z3. (Catatan: akan lebih istimewa seandainya launching pada saat ultah kota Jakarta ya) 🙂

Mengingat Z3, tentunya kawan-kawan teringat akan mobil buatan German yang terkenal.. gagah, tangguh menghadapi segala medan, yang pasti membuat pemiliknya dilirik semua orang deh. 😀

Pict #1: Blackberry Jakarta (Z3) mulai di sini (start from here)

Blackberry Jakarta (Z3), walaupun dibandrol dengan harga ekonomis (sub-$200), tidak berarti barang murahan loh… silahkan di cek dalamannya, processor Qualcomm Snapdragon 1,2GHz dengan RAM 1,5GHz, layar 5″, support MicroSD card sampai dengan 64GB, dipersenjatai dengan Bluetooth v4 Low Energi (BLE).

Dibandrol harga Rp. 2.199.000,- sangat ekonomis, mengingat nama besar Blackberry. Design handphone-pun dibuat trendi mengikuti trend terkini, sebut saja ramping, dengan bentuk kotak disertai sudut kotak lancip, membuat pemiliknya makin terkesan trendi + macho. 😀

Pict #2: sisi kanan Blackberry Jakarta (Z3)

Dari sisi design, body Z3, tombol-tombol (power, volume up, mute dan volume down) ditempatkan pada sisi kiri; bagian sisi atas ada lubang headphone, sedangkan di sisi kanan, ada lubang MicroSD card dengan Micro SIM card, pada bagian bawah ada lubang Micro USB (charging & koneksi ke PC) serta lubang Microphone.

Sisi belakang Z3, dilengkapi kamera dengan flash, backcase bertekstur dengan logo blackberry (besar) pada bagian tengahnya, serta speaker pada sisi kiri agak ke sebelah bawah

Pict #3: Isi paket penjualan Blackberry Jakarta (Z3)

Di dalam kotak Blackberry Jakarta (Z3) sendiri, hanya ada satu handset Blackberry Z3, sebuah kepala charger output USB dengan logo Blackberry, kabel USB ke Micro USB, serta sebuah earphone stereo + mic yang berfungsi ganda sebagai antenna untuk menangkap siaran FM radio. (Iya, Blackberry Jakarta bisa digunakan mendengarkan FM radio tanpa menggunakan quota Internet/data anda loh. Fungsi ini bisa ditemukan dalam aplikasi Music – Radio. Dengan syarat, harus menggunakan headphone, karena kabelnya berfungsi ganda sebagai antenna).

Oh ya, kode produksi Blackberry Z3 ini adalah STJ100-1. (Catatan: kalau tukang jualan roti bakar menyebutkan “STM” = Susu Telor Madu; he he he; untuk STJ jadi singkatan apa ya?)

Pict #4: Device info konsumsi battery

Dalam beberapa hari bergelut dengan Blackberry Jakarta (Z3), saya menemukan, daya tahan battery rata-rata 10 – 14 jam dengan pemakaian ala saya. (Catatan: push 10 e-mail termasuk 3 milis high traffic di dalamnya, aktif ber-BBM & BB Group, Whatsapp, Telegram, Twitter, Facebook, LinkedIn, Evernote, dan sedikit youtube pada saat terkoneksi ke WiFi). Percobaan saya menggunakan 2 operator, Telkomsel dan XL, cukup untuk memenuhi kebutuhan mobilitas saya sehari-hari. Sayangnya, battery tidak removable, jadi kita hanya bisa menggunakan powerbank sebagai sumber cadangan catu daya.

Pict #5: Blackberry Jakarta (Z3) lock screen serta perbandingan ukuran layar dengan Blackberry Q10.

Blackberry Z3, datang dengan BB10 OS 10.2.1.xxxx, artinya apa bagi kita? OS ini sudah secara native mendukung penggunaan aplikasi android tanpa harus di porting / sideload, baik secara Over-The-Air (OTA) maupun instalasi via APK dari MicroSD. Tinggal dipilih nih kita mau install darimana. *he he he he*

Oh ya, karena ini merupakan Blackberry device dengan OS BB10, kita tidak perlu mendaftarkan paket Blackberry Internet Service (BIS) dari operator; cukup berlangganan paket data, maka kita bisa langsung menggunakannya. Pengalaman saya, menggunakan paket 1GB sebulan sudah cukup, dengan catatan saya tidak melakukan terlalu banyak streaming YouTuBe pada saat mobile, kebanyakan konek ke WiFi saat berada di kantor & rumah.

Fungsi lock screen menggunakan pattern ala blackberry BB10 menurut saya sangat menarik. Mengkombinasikan bagian yang harus “tersentuh” dengan angka, dimana deretan angkanya sendiri adalah diberikan secara acak. Bayangkan seperti ini, HP android benar bisa dikunci berdasarkan pattern tertentu, tapi sekali orang melihat, tentunya yang melihat bisa langsung membobolnya. Sedangkan di BB10, titik tempat sentuhnya dan angkanya sendiri adalah random, kecil kemungkinan orang akan bisa membobol dengan beberapa kali melihat. Sebelum blackberry Jakarta (Z3), fungsi lock screen ini baru saya temukan di Blackberry Z30.

Dibandingkan dengan Blackberry Dev-Alpha-C (aka versi developer untuk Blackberry Q10), layar Blackberry Jakarta saya lihat cukup jernih dan nyaman digunakan, dan ditambah ukuran layarnya, membuat lebih kita lebih produktif, baik untuk membaca e-mail maupun berselancar di Internet. Untuk area membaca yang lebih lebar, posisikan blackberry Jakarta ke posisi landscape.

Pict #6: Permbandingan blackberry Jakarta (Z3) dengan iPhone5.

Dibandingkan dengan iPhone5, ukuran body blackberry Z3 pastinya lebih bongsor (5″ vs 4″), dan sedikit lebih tebal.

Pict #7: Contoh hasil foto outdoor Blackberry Jakarta (Z3).

Kemampuan camera di Blackberry Z3 (Jakarta), selain dilengkapi dengan flash, juga menggunakan auto-focus, tentunya titik fokus bisa pengguna tentukan sediri. Yang mungkin belum banyak diketahui umum adalah, biasanya kita geser kotak fokus ke titik tertentu, setelah mengambil foto, otomatis kotak fokus kembali ke tengah frame bukan? Nah cara agar kotak fokus tetap diam di titik itu adalah, pindahkan titik fokus ke tempat yang diinginkan, kemudian tahan sampai muncul tanda kunci. Coba anda ambil gambar, setelah itu titik fokus tidak akan berubah. Untuk menormalkan kembali, cukup tahan kembali ditanda gembok hilang.

Fungsi pendukung camera lainnya di Z3 adalah fungsi HDR (high-dynamic-range). Kebetulan saya belum menemukan object yang asik untuk mencoba fungsi tersebut. Foto diatas diambil menggunakan mode normal, sedangkan dibawah ini, foto dilakukan dalam jarak sangat dekat ke object (macro?).

Pict #8: Contoh hasil foto Makro Blackberry Jakarta (Z3).

Pada foto remote NEC, titik fokus-nya diletakkan pada tulisan NEC, akan tetapi menurut saya, bagian lain masih kurang “bokeh” (blur), tapi untuk sebuah smartphone seharga 2jutaan (bahkan hanya 1,4jt bagi yang pre-order, belum lagi ditambahkan berbagai macam bonus dari distributor), Blackberry Jakarta (Z3) dapat menjadi pilihan yang tepat loh.  Oh ya, pre-order mendapatkan Blackberry Jakarta edisi spesial, ada tulisan “Jakarta” pada body bagian belakang (posisi kanan atas).

Edisi spesial blackberry Jakarta (Z3)

Pict #9: Tampak belakang edisi spesial blackberry Jakarta (Z3)

Hal lain yang patut diacungi jempol adalah keyboard virtual BB10. Keyboard ini terbagi menjadi 2 macam. Yang menggunakan perintah suara (voice dictation) dalam bahasa Inggris, ataupun virtual keyboard dalam bentuk qwerty di layar.

Virtual keyboard qwerty akan mempelajari gaya bahasa kita serta menyarankan kata yang diduga kita inginkan. Apabila benar, maka kata tersebut cukup kita sentil ke atas. Contoh dibawah ini, pada saat saya mengetikkan kata “Komp” otomatis ditawarkan beberapa kata sebagai berikut: kompas, kompetensi, komputer, komplek. Cukup membantu, akan tetapi untuk hasil yang maksimal, mungkin setelah penggunaan intensif selama 1 mingguan, baru keyboard virtual ini makin jitu dalam memprediksi keinginan kita.

Pict #10: Virtual keyboard blackberry OS 10; prediksi kata & perintah suara.

Perintah suaranya sungguh menggagumkan, karena selain menterjemahkan suara kita menjadi tulisan (text), software juga bisa memberikan tanda baca yang tepat, tergantung intonasi yang kita gunakan. Pada percobaan, secara otomatis tulisan yang diketik bisa ditambahkan tanda seru (!), tanda baca (?), ataupun titik (.). Keren? 😀

Oh ya, untuk keyboardnya sendiri, kalau ingin menghapus kata, biasanya kita menekan tombol backspace dan huruf terhapus satu-per-satu bukan? Virtual Keyboard BB10 menyediakan gesture gerakan sapuan jari. Pada bagian keyboard, sapukan 1 jari dari arah kanan ke arah kiri, maka akan terhapus 1 kata. Begitu kita sapukan 2 jari, maka 2 kata akan langsung terhapus. Begitupun kalau kita menyapukan 3 jari, maka otomatis 3 kata sebelumnya akan terhapus. Sangat membantu! 😀

Pada saat bersamaan, kita bisa mengaktifkan maksimal 3 bahasa (bukan cuma bahasa Indonesia, bahkan ada bahasa Jowo & Sunda!). Pemilihan bahasa dilakukan secara otomatis oleh software virtual keyboard Blackberry, karena fungsi AI software tersebut mampu mengenali konteks bahasa yang sedang digunakan. Pengguna tidak harus merubah/memilih bahasa secara manual.

Dengan segala keunggulan serta keunikan BB10, apakah menurut anda Blackberry Jakarta (Z3) ini layak untuk dipinang? Menurut saya, YA!  Tentunya, tidak ada obat yang paling mujarab, selain mencobanya sendiri di toko-toko retail terdekat dari tempat anda, dan apabila anda keracunan setelahnya, jangan salahkan saya ya. 😀

Tunggu liputan live event launching Blackberry Jakarta (Z3). Tentu saja, hanya di Jakarta, Indonesia!

Hidup Indonesia-ku.

 

 

Salam SUKSES LUAR BIASA,

http://www.BduaB.com

Kenapa BB saya panas + boros battery setelah upgrade?

Sesuai judul, di BlackBerry OS 10, memberikan banyak kemampuan baru, akan tetapi hal tersebut juga berdampak pada hal-hal seperti kemampuan battery.

Maksudnya apa?

Saya sudah sering mengalami, setelah melakukan update aplikasi dari AppStore resmi (BlackBerry World), handset menjadi panas (baik pada saat terkoneksi di jaringan sellular, atau WiFi, bahkan mode Airplane).

Yang lebih aneh lagi, aplikasi tersebut sama sekali tidak dijalankan… *hem….*

Akhirnya, setiap kali melakukan upgrade aplikasi, selalu saya ingat-ingat, aplikasi apakah tersebut. Kalau ternyata membuat handset saya panas (otomatis konsumsi batter meningkat; baca: boros), langsung uninstall (buang) aplikasi tersebut.

Hasilnya? Konsumsi battery kembali normal dan handset tidak panas.

Jadi saran saya adalah: selalu buat catatan pribadi, aplikasi apa yang terakhir anda install (atau download), apabila setelah itu Handset menjadi panas (tidak normal); segera buang aplikasi tersebut.

Sangat disayangkan, aplikasi yang telah lolos dari tim QC BlackBerry masih bisa membuat handset BlackBerry bertingkah tidak normal. 🙂

PS:
Sedang menunggu membuka encryption media card, agar bisa naik kelas ke 10.2.1.2141. Semoga cepat selesai agar bisa segera diinformasikan hasilnya bagaimana. 🙂

Sehari bersama B10 – Dev Alpha C (BB Q10 yang sedang menyamar).

Teman-teman,

Menyambut kehadiran BBM4all di Indonesia, beberapa waktu yang lalu, diadakan kuis berhadiah 1 unit BB10 Dev Alpha C.

Dengan semangat ikut meramaikan acara yang berlangsung, saya mengikuti acara tersebut. Puji syukur, setelah 10 hari non-stop acara kuis, saya dinyatakan sebagai pemenang dan memperoleh 1unit BB10 Dev Alpha C.

Perasaan? Tentunya senang banget! (walaupun kiranya akan dibukakan “pintu” aka “Z30”) Kebetulan BB Onyx2 lawas sudah muncul dead-pixels… saatnya Onyx2 masuk service center atau di lego saja ya (#ehem).

Balik, pengalaman pertama memiliki BB ber-OS BB10 sangat luar biasa, apalagi perkembangan terakhir yang (katanya) sudah bisa langsung menginstall APK (program aplikasi android) langsung ke BB10 (minimum versi: 10.2.1.xxxx), karena di dalamnya sudah termasuk runtime engine Android Jellybeans…. sangat lezat sekali. Nikmat!

Sesampainya di rumah, bersama anak-anak, segera dibuka bungkusnya, SIM card yang sudah dipersiapkan, segera dikeluarkan.. begitu mau memasukkan SIM card, baru bengong.. ternyata BB10 menggunakan MicroSIM (bukan SIM card ukuran normal). *tepok jidat*. Cutter SIM card ada di kantor, tidak jadi icip-icip BB10 hari ini donk ya…?

Sambil berbengong ria, kepikiran lagi, bahwa si BB10 kan bisa connect WiFi, kenapa tidak dicoba langsung koneksi WiFi dan mulai di oprek? Betul juga… semangat datang kembali.. berhasil masuk dan membuka Blackberry Apps World.

Segera download beberapa apps yang dibutuhkan + gratis (25 hari apps gratis dari RIM).

Sudah senang sekali…. kemudian, seperti device lainnya yang terlalu semangat di-abuse, battery minta di-isi ulang… segera dikoneksikan ke charger. Sambil menunggu battery penuh, kembali terpikir, selama ini ada memotong SIM card, kemudian sudah ada pola, kenapa tidak menjeplak pola tersebut ke SIM card standard ini, agar bisa dipotong manual?

Segera bongkar-bongkar laci, dan menemukan pola yang dicari… pas-kan ke SIM card baru, dan potong manual menggunakan gunting… ya gunting biasa. 😀 Jadi juga MicroSIM yang dibutuhkan… seraya menunggu battery penuh agar bisa segera memasang MicroSIM, browsing-browsing Internet mencari informasi cara menggunakan BB10. Misalnya cara melakukan sync contact & calendar ke google.

Hasilnya, cukup tambahkan account gmail (atau Google Hosted Service) yang di-ingin-kan, kemudian masing-masing item dapat dipilih sendiri waktu sync-nya. Misal e-mail setiap 5menit sekali, Contact: 15 menit sekali, serta Calendar: 30 menit sekali, atau semaunya anda deh. Kebanyakan di Internet, menyarankan agar menambahkan account 2x, 1 khusus untuk mengatur waktu sync e-mail, dan 1 lagi untuk mengatur waktu sync Contact & Calendars.

Nah, si Dev C sudah penuh, segera matikan charger dan cabut battery… masukkan SIM Card yang telah dipotong tadi, loh kok malah ketemu pesan ini… gagal lagi menggunakan Dev C deh (#eh, BB10).

Karena Dev C sebenarnya adalah device untuk pengembang aplikasi di platform Blackberry, dan programnya telah berakhir.. waduh.. apa yang memberikan ini tidak memikirkan perasaan orang ya? Jadi Dev C bisanya buat pajangan saja nih? 😀 Tanya-tanya kawan-kawan dan iseng buka website yang diminta (http://developer.blackberry.com)

Nah itu dia, ternyata bisa mendownload firmware terbaru untuk si Dev C. Timbul kembali semangat yang hilang ditiup “thank you note” tadi. Weleh, file size firmware lumayan besar ya… 1.4GB, dan untuk menuliskannya ke Dev C (atau BB lainnya) membutuhkan PC berbasis Windows. Akhirnya download selesai.. segera dijalankan, ajaibnya, pertama tidak mau deteksi… gawat, cobaan apalagi ini… Pada saat “Connecting to Bootrom:” tidak pernah keluar pesan bahwa Dev C berhasil dikenali. Kembali berburu informasi di google, akhirnya coba – coba cabut colok, dan hola… Dev C berhasil dikenali dan program upgrade segera melaksanakan tugasnya!

Selesai upacara tersebut, Dev C kembali hidup dan bisa digunakan.. akan tetapi dengan pengalaman seperti itu, tidak berani menjadikan Dev C sebagai main gadget, karena… boleh dibilang device tersebut hanya untuk uji coba. 😀

Satu hal yang sangat membuat penasaran adalah fungsi BBM terbaru, dimana ada yang namanya “BBM Channel” Setiap dari kita, dapat membuat “channel” yang diinginkan. BBM Channel bisa di-analogi-kan sebagai “Fan Page” di Facebook, serta memiliki pengikut. Para bisnis dapat membangun brand-nya dengan membuat Channel ini, serta para penyuka, dapat mendaftar (subscribe) untuk menerima update terbaru. Oh ya, update bukan sekedar photo, tapi bisa juga berupa Video loh! 😀 Keren?

Seperti perkiraan saya sebelumnya, menggunakan BBM versi terbaru (BBM v8) lebih intuitif di touch-screen dibandingkan menggunakan trackpad (apalagi trackball). :p Masih ada lagging-lagging sedikit, akan tetapi masih acceptable.

Apps yang sudah terinstall: Whatsapp, Facebook, Twitter, LinkedIn. Untuk capture screen, sudah bawaan BB10, dapat dilakukan dengan menekan kombinasi tombol Volume UP & DOWN secara bersamaan. Otomatis gambar akan disimpan dalam memory.

Sekian laporan pandangan mata menggunakan BB10. Tunggu update selanjutnya….

Salam SUKSES LUAR BIASA,

– BanyakGaul –

Tingkatkan kemampuan ke BBM versi terbaru sekarang juga.

Setelah hiruk pikuk peluncuran BBM4All, kali ini, berkesempatan mencoba BBM v8 di handset BB jadul (Onyx2). Ternyata? Membuat hang, perpindahan antar tab (chat, friend list, group, BBM channel, recent update) membuat pengguna sangat frustasi.

Hal ini bukan cuma dialami oleh saya, akan tetapi oleh banyak orang.. memang ada beberapa yang menegaskan bahwa handset mereka baik-baik saja… tapi entah lah… kenyataannya mayoritas tidak nyaman menggunakan BBM versi 8 tersebut.

Ngak tahan, setelah mencoba menggunakannya selama seharian, akhirnya downgrade lagi ke BBM v7.0.1.23 lagi dah.. Aman & nyaman. Menurut saya, UI BBM v8 cocok untuk BB ber-touchscreen, jadi hanya perlu tap untuk pindah antar tab serta memilih lawan bicara.

Untuk downgrade ke Blackberry Messenger v7.0.1.23 bisa dilakukan dari link dibawah ini…

Download-lah BBM sesuai OS handset yang sedang digunakan ya:

OS5 :
http://bit.ly/10vyEkm

OS6 :
http://bit.ly/13RAbpC

OS7 :
http://bit.ly/13RA5ye

OS7.1 :
http://bit.ly/10DegBs

Terlampir contoh surat cinta dari RIM yang membujuk pengguna untuk melakukan upgrade ke BBM v8. 😀 Bagi yang ingin coba-coba silahkan, kalau tidak puas, tinggal downgrade lagi menggunakan links diatas.

%d bloggers like this: